BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pemimpin merupakan sebuah figur yang penting didalam kelompok
maupun komunitas suatu masyarakat bangsa dan negara, semua itu akan maju dan
terarah jika seorang figur atau pemimpin yang berkompeten dan juga atas karunia
pemberianTuhan yang Maha Esa.
Pemimpin yang mampu memberi rasa aman tentram, mampu mewujudkan
keinginan rakyatnya, maka dianggap pemimpin yang berhasil. Pemimpin yang
berhasil adalah pemimpin yang di cintai oleh rakyat, bangsanya, pemikirannya
dipakai meskipun pemimpin tersebut sudah tidak bersama mereka. Segala
perintahnya dilakukan, rakyat membela tanpa diminta terlebih dahulu.
Pemimpin yang berhasil disukai rakyatnya
dan disegani lawannya.
Maksud dari figur tersebut adalah rosululloh SAW, yang mana pada
pertengahan abad ke enam masehi dunia dalam masa keguncangan dalam kegelapan
dan merusak spiritual manusia. Kondisi tersebut terjadi sebelum Nabi Muhammad
yang di sebut dengan jaman jahiliyah, kemudian lahirlah sebuah bayi yang
membawa perubahan yang sangat besar bagi sejarah peradapan manusia, yang
bertempat di Makkah, Ia dikenal sebagai pembawa risalah Rahmatan lil’alamin.
Dengan kehadirannya beliau menjadi pelita yang mampu menyinari alam
kegelapan yang menjadi terang benderang, beliau juga seorang sosok yang Agung
dan penyempurna, yang menjadi Rosul, utusan Alloh yang terakir dikenal dengan
sebutan khotamul Ambiya’ (Nabi penutup) para Nabi sebelumnya.
Akhlaqnya yang mulia memberi bekas mendalam bagi siapa saja yang
pernah berinteraksi dengannya baik mungsuh, maupun teman, juga jujur, berani,
fasih bicaranya, sopan tutur katanya, teguh memegang amanah dan cerdas. Beliau
menjadi sosok paling fenomenal yang secara spektakuler berhasil melakukan
perubahan dan menciptakan peradaban kemanusiaan, keberhasilan beliau menjadi
patut menjadi teladan hidup bagi seluruh ummat.
Kesuksesan
beliau dengan akhlaqnya yang mulia mampu mempengarui segala aspek kehidupan
merek, termasuk hukum –hukum yang digunakan pada masa itu. Sebagian dari nilai
budaya Arab pra Islam, untuk beberapa hal diubah dan diteruskan oleh masyarakat
Muhammad ke dalam tatanan moral Islam, disamping itu beliau juga berhasil
mendirikan sebuah negara yang disebut negara Madinah.Dengan demikian Nabi
Muhammad dikatakan sebagai pemimpin Agama juga sekaligus sebagai kepala Negara,
untuk mempermudah pemahaman akan dibahas lebih lanjut.
B.
Fokus Masalah
1.
BagaimanaNabi
Muhammad menjadi kepala Agama di Makkah?
2.
Bagaimana Nabi
Muhammad menjadi kepala Negara di madinah?
C.
Batasan Masalah
Makalah ini
hanya membahas tentang sejarah Nabi menjadi kepala Agama di Makkah dan kepala
Negara di Madinah.
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Proses
pengangkatan Rasulullah
Menjelang akhir abad ke enam, kota makkah berada dalam krisis
spiritual dan moral. Ekonomi pasar yang bergantung pada persaingan tanpa ampun,
kerakusan dan usaha pribadi telah mencabik kehidupan masyarakatnya.
Keluarga-keluarga kini saling cemburu pada kekayaan keluarga lain. Klan yang
kurang berhasil merasa menemuhi jalan buntu dan klan yang sukses tak akan
pernah ambil peduli. Mereka bukan hanya mengabaikan nestapa anggota-anggota
suku yang lebih miski, melainkan juga menyalah gunakan hak-hak para yatim dan
para janda. Orang-orang makkah menjadi pelit, tetapi mereka menyebut bahwa
ini adalah kepekaan bisnis yang yang
cerdik, yang kaya semakin kaya sementara yang kalah bersaing merasa semakin
kehilangan arah.[1]
Ketika Nabi Muhammad berusia 40 tahun, perenungan panjangnya telah
menguasai alam pikiran yang menjadikannya memisahkan diri dari komunitasnya.
Beliau akhirnya lebih memilih mengasingkan diri dengan berbekal roti gandum dan
ai, tempat yang di tuju adalah Gua Hira yang berada di Jabal Nur, berjarak
kurang lebih dua mil dari makkah.[2]
Saat itu, 17 Ramadlan tahun 13 Sebelum Hijrah, bertepatan dengan 6
Agustus 610 M, ketika Muhammad sedang berkhalwat di Gua Hira, Jibril
menyampaikan wahyu pertama, yaitu lima ayat dari Surat Al-’Alaq. Dengan
turunnya wahyu pertama itu, berarti Muhammad telah dipilih Tuhan sebagai Nabi,
yang pada saat itu beliau berusia 40 tahun. Wahyu pertama ini, belum mengandung
perintah untuk menyeru manusia kepada suatu agama. Artinya, Muhammad telah
diangkat menjadi nabi, tetapi belum menjadi rasul, sebab belum diberi kewajiban
menyampaikan risalah.
Setelah
wahyu pertama turun, Jibril tidak muncul lagi untuk beberapa lama, selanjutnya
turun wahyu sebagai berikut;
a.
Q.S.
Al-Muzzammil, 73; 1-9, yaitu:
يَٰٓأَيُّهَاٱلۡمُزَّمِّلُ
١ قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا ٢ نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِيلًا
٣ أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ
تَرۡتِيلًا ٤ إِنَّا سَنُلۡقِي عَلَيۡكَ قَوۡلٗا ثَقِيلًا ٥ إِنَّ نَاشِئَةَ ٱلَّيۡلِ هِيَ أَشَدُّ وَطۡٔٗا
وَأَقۡوَمُ قِيلًا ٦ إِنَّ لَكَ فِي ٱلنَّهَارِ سَبۡحٗا طَوِيلٗا ٧ وَٱذۡكُرِٱسۡمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلۡ إِلَيۡهِ
تَبۡتِيلٗا ٨ رَّبُّٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَٱتَّخِذۡهُ
وَكِيلٗا ٩
1)
Hai orang yang
berselimut (Muhammad)
2)
bangunlah
(untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya)
3)
(yaitu)
seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit
4)
atau lebih dari
seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan
5)
Sesungguhnya
Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat
6)
Sesungguhnya
bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu´) dan bacaan di waktu
itu lebih berkesan
7)
Sesungguhnya
kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak)
8)
Sebutlah nama
Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan
9)
(Dialah) Tuhan
masyrik dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka
ambillah Dia sebagai pelindung
b.
Dan Q.S. Al-Mudatsir, 74; 1-7 berbunyi:
يَٰٓأَيُّهَاٱلۡمُدَّثِّرُ ١
قُمۡ فَأَنذِرۡ ٢ وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ
٣ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ ٤ وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ ٥ وَلَا تَمۡنُن تَسۡتَكۡثِرُ ٦ وَلِرَبِّكَ فَٱصۡبِرۡ ٧
1)
Hai
orang yang berkemul (berselimut)
2)
bangunlah, lalu
berilah peringatan
3)
dan Tuhanmu
agungkanlah
4)
dan pakaianmu
bersihkanlah
5)
dan perbuatan
dosa tinggalkanlah
6)
dan janganlah
kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak
7)
Dan untuk
(memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah
Kedua wahyu ini, menjadi simbol diangkatnya Nabi Muhammad menjadi
Rasulullah (utusan Allah) yang dibebani kewajiban menyeru (memberi peringatan)
bukan hanya kepada bangsa Arab saja, melainkan kepada seluruh manusia, agar
mengikuti yang risalah yang dibawanya.[3]
Pada saat Nabi Muhammad lahir hingga ketika diangkat menjadi Rosul,
Beliau SAW tinggal di tengah-tengah kaum Quraisy Makkah yang memiliki daerah
mereka yang mirip-mirip Republik (sekarang ini). Mereka sangat jauh dari
pertentangan politik, dan struktur di Makkah (saat itu) sehingga, pada awal
Nabi Muhammad SAW diutus di tengah-tengah mereka, tujuan dakwah Rasululloh
bukan untuk menguasai tampuk kepemimpinan Negara, namun dasarnya adalah
mengajak mereka kepada kebenaran, kebaikan, dan keindahan, suatu ajakan yang
berdiri sendiri di bawah naungan ajaran Islam.
Namun meski begitu, makkah juga merupakan pusat kegiatan keagamaan
bangsa Arab. Di sana penduduk Arab melakukan bebagai bentuk peribadatan di
sekeliling kakbah dan menyembah terhadap berhala dan patung-patung yang
disucikan oleh bangsa Arab pada kala itu. Dengan kondisi seperti ini, tidak
mudah bagi Nabi menyampaikan wahyu keseluruh umat kala itu. Untuk menghadapi
kondisi seperti ini, maka pola penyebaran dakwah Islam yang dilakukan oleh
Rosululloh dengan cara tiga tahap sesuai situasi dan kondisi yang menyertainya
kala itu, yakni Tahap rahasia, Tahap terang-terangan, dan tahap untuk umum.[4]
2.
Respon
Masyarakat Makkah Terhadap dakwah Nabi
Respon Masyarakat Makkah terhadap seruan Nabi Muhammad SAW untuk
memeluk Islam yang dimulai dari:
a.
dakwah
sembunyi-sembunyi
pada fase ini respondakwah Nabi masih sangat positif, karena Beliau
menyerukannya kepada orang-orang yang dekat dengan beliau dan diperkirakan akan
menyambut positif.Beliau mengenal obyek dakwah pertama itu sebagai orang-orang
yang menyukai kebenaran dan kebaikan sementara mereka mengenal beliau sebagai
seorang yang baik, jujur dan sholeh.
Diantara orang-orang yang pertama menerima akan kebenaran Aqidah beliau,
mereka adalah:[5]
· Khodijah binti Khuwalid, Istri Nabi
· Zaid ibnu Haritsah ibn Syarahil al-Kalbi, mantan budak Nabi SAW
· Ali ibn Abi Tholib, kemenakan Nabi , yang waktu itu masih anak-anak
dan diasuh oleh beliau
· Abu Bakar ash-Shiddiq, sahabat karib beliau
Dalam mendakwahkan Islam sahabat
karib beliau yakni Abu Bakar ash-Shiddiq juga turun tangan mendakwahkan Islam,
Ia merupakan seorang sosok yang penuh simpatik, lembut, luwes pada pergaulan,
berakhlaq mulia dan seorang yang cukup dikenal dimasyarakat. Seperti para
pemuka kaumnya sering mendatanginya, mereka banyak yang menyukainya karena pengetahuannya,
kemampuan berdagang, dan pergaulannya yang baik.[6]
Seperti halnya Rasululloh, Abu Bakar mengajak orang-orang untuk masuk Islam,
kepada orang yang mempercayainya.
Sehingga pada tahapan dakwah pertama
tersebut, Rasululloh berhasil memperoleh pengikut sekitar empat puluh enam
orang.[7]Dan
mereka yang masuk Islammerupakan orang-orang keturunan Quraisy terdiri dari berbagai
suku, kabilah, dan luar suku Quraisy, dan mereka disebut sebagai as-sabiqulal-awwalun.
Sedangkan tanggapan negatif dari
dakwah Nabi yaitu setelah berjalan selama tiga tahun, maka terciumlah oleh
orang-orang kafir Quraisy. Islam menjadi buah bibir Makkah. Mereka mulai
menampakkan ketidak sukaan terhadap orang-orang Islam, namun belum memberikan
perhatian yang serius, sebab Rasul memang belum menyerang Agama maupun
sesembahan mereka.[8]
b.
Dakwah terang-terangan
Setelah turunnya ayat (Asyura’ :214), dakwah terang-terangan
dimulai, dari dakwah antar kerabat yakni Nabi mengumpulkan keluarganya, bani Hasyim,
dan juga orang dari bani Abdul Muthalib ibn Abdu manaf. Dalam pertemuan
tersebut sebelum dimulai pembicaraan oleh Nabi Abu Lahab angkat bicara, dengan
melarang ajaran Beliau dan Nabi pun tidak mengucap sepatah katapun. Pada
kesempatan lain, yakni pertemuan kedua beliau mengawali pembicaraan dan Abu
Thalib tidak bisa menerima nasihat Nabi karena belum siap untuk meninggalkan
Agama nenek moyangnya, namun Abu Thalib akan selalu melindungi Nabi. Sedangkan
Abu Lahab berisikeras untuk menghentikannya.
Berdakwah di atas bukit Shofa dengan menyeru suku Quraisy dan tidak
ada sedikitpun respon dari mereka, hanya Abu Lahab yang menanggapi dengan
caranya yang buruk. Kemudian Nabi SAW mulai menampakkan ibadahnya secara
terang-terangan di depan kaum Quraisy dan dakwah beliau lambat laun makin luas
diterima. Satu demi satu mereka masuk Islam. Bersamaan dengan itu muncullah
sikap antipati dan penentangan dari kaum kerabat yang tidak masuk Islam.[9]
Melihat semakin banyaknya orang yang menerima dakwah Nabi mereka melakukan
upaya menghalangi jamaah Haji untuk mendengarkan dakwah Nabi, setelah musim
haji usai mereka masih saja menghalangi dakwah Nabi dengan menghina,
melecehkan, menistakan, mendustakan, meniupkan keraguan, menghalangi manusia
mendengarkan Al-Qur’an, bahkan sampai menganiaya terhadap kaum muslimin.
Kala itu Nabi SAW tidak ada yang berani menyentuhnya karena masih
mendapat perlindungan dari pamannya Abu Thalib dan bani Hasyim, kecuali Abu
Lahab. Namun tetap saja kaum musyrikin melakukan kezaliman terhadap kaum muslim
hal ini, Rasululloh mengambil dua langkah strategis, yang di belakang hari
mempengarui perjalanan dakwah dan realisasi tujuan beliau.[10]Pertama
memilih rumah Arqam ibn Abil Arqam almakzumi sebagai pusat dakwah yang
bertempat dikaki bukit shafa yang jauh dari pantauan mungsuh. Keduakaum
Muslimin hijrah ke Habasyah yang pada akhirnya sampai disana kaum muslimin diperlakukan
dengan sangat baik.
selanjudnya kaum muslimin yang ada di Habasyah mendengar kabar
bahwa kaum Quraisy di mekkah sudah memeluk Islam, dan kaum Muslimin pun
memutuskan untuk kembali ke Makkah. Sesamapinya disana ternyatakabar itu tidak
sesuai dengan faktanya, akirnya kaum muslimin hijrah lagi ke Habasyah walaupun
hijrah yang kedua kali ini sangat berat karena dihalang-halangi oleh kaum
musyrikin.
Sedangkan Rasululloh masih tetap tinggal di Makkah dan beribadah di
depan kaum musrik dan banyak sekali cobaan yang beliau hadapi dari gangguan
orang Musyrik Makkah. Pada tahun ke enam kenabian masuklah Hamzah ibn Muthalib seorang
jagoan muda dari Quraisy, juga masuknya Umar ibn Khathab seorang yang pemberani,
diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, “kami menjadi lebih kuat sejak Umar masuk Islam”.[11]
Hadirnya kedua pahlawan besar tersebut berpengaruh terhadap kewibawaan umat
Islam.
Kaum Quraisy sudah kehabisan akal untuk menggagalkan dakwah Rasul
dan sangat geram untuk membunuhnya namun karena dilindungi oleh pamannya, dan
akhirnya kaum Quraisy berdiplomasi dengan pamannya untuk diserahkan kepada
mereka dengan segala upaya mereka untuk meluluhkan hati sang paman Nabi, namun
tetap gagal.
Sampai disinilah kesabaran kaum Quraisy benar-benar menguap habis
tak tersisa. Meskipun begitu mereka tetap saja belum berani menyentuh Nabi
Muhammad yang mendapatkan perlindungan Abu Thalib dan Bani Hasyim, keluarga
besar ini bahu membahu memberikan perlindungan kepada Rasululloh SAW.[12]Melihat
dua klan tersebut melindungi Nabi yang pada akhirnya kaum Quraisy sepakat untuk
memboikot terhadap kedua keluarga besar Nabi, kesepakatan itu digantung di
kakbah sampai Abu Thalib mau menyerahkan Nabi. Setelah tiga tahun lamanya
perjanjian tersebut dibatalkan hal ini disebabkan orang-orang Quraisy pecah
mencadi dua kubu ada yang menghendaki pemboikotan dan ada yang tidak. Yang
tidak sepakat adanya pemboikotan berisi keras untuk membatalkannya akhirnya
bani Abu Thalib dan Bani Hasyim dinyatakan bebas.
Enam bulan setelah pemboikotan , Abdul Muthalib wafatkemudian
disusul Istri Nabi siti Khodijah. Hal ini membuat kesedihan Rasul menjadi berat
hati, selain itu wafatnya Abdul Muthalib membuat kesempatan pada orang Quraisy
musrik lebih leluasa untuk menyakiti Nabi dan orang muslim.
c.
Dakwah kalangan
umum.
Yakni
dakwah ini dilakukan diluar Makkah, pada tahun kesepuluh kenabian. Nabi pergi
ke Thaif dan didampingi oleh Zaid ibn Haritsah sesampainya disana respon
terhadap ajakan Nabi ditolak dan dilempari batu sampai terluka sampai akhirnya
kembali lagi ke Makkah. Kemudian nabi mendakwahkan Islam kepada kabilah-kabilah
Arab.Pada fase ini banyak terjadi sekali cobaan-coabaan yang dihadapi Nabi
Karena di Makkah dakawah Nabi Muhammad SAW mendapat rintangan dan tekanan, Hal
ini semua hampir menyebabkan Nabi Muhammad putus asasehingga untuk menguatkan
hati beliau, Alloh mengutus dan Mengisra’ dan Memi’rajkan beliau
pada tahun kesepuluh kenabian itu. Berita tentang Isra’ dan Mi’raj ini
menggemparkan masyarakat Makkah, bagi orang kafir, peristiwa ini menjadi
propoganda untuk mendustakan Nabi Muhammad, sedangkan bagi orang yang beriman
ini merupakan ujian keimanan.
3.
Bai’at Aqobah
Setelah peristiwa Isra’ dan Mi’raj, suatu suatu perkembangan besar
bagi kemajuan dakwah Islam terjadi, yaitu dengan datangnya sejumlah penduduk
Yatsrib (madinah) untuk berhaji ke Makkah. Mereka terdiri dari dari dua suku
yang saling bermusuhan, yaitu suku aus dan khazraj yang masuk islam dalam 3
gelombang. Pada gelombang pertama pada tahun ke-10 kenabian, mereka datang
untuk memeluk agama Islam dan menerapkan ajarannya sebagai upaya untuk
mendamaikan permusuhan antara kedua suku. Mereka kemudian mendakwahkan Islam di
madinah. Gelombang kedua, pada tahun ke-12 kenabian mereka datang kembali
menemui nabi dan mengadakan perjanjian yang dikenal dengan “aqabah pertama”.[13]
a. Perjanjian 'Aqabah Pertama
Dengan kembalinya rombongan tersebut ke
Yatsrib, isu tentang Islam di daerah itu mulai beredar dan jumlah orang-orang
yang berhasrat pada Islam menjadi bertambah. Tahun berikutnya duabelas orang
yang sebagiannya adalah orang-orang yang tahun sebelumnya telah beriman dan
sebagian lain adalah orang-orang perolehan yang di tahun haji tersebut
bergabung dengan mereka. Dari ke duabelas orang tersebut sepuluh orang dari
kaum Khazraj dan dua orang dari Aus dimana mereka datang menemui Nabi Saw di
'Aqabah dan mereka membaiat kepada Beliau.
Setelah orang yang datang dari Yatsrib
beriman, mereka ingin Nabi mengirim seorang muballigh untuk mengajarkan Quran
dan Islam kepada mereka dan penduduk Yatsrib. Kemudian Rasulullah Saw
memberikan tugas tersebut kepada Mus'ab bin 'Umair
b. Perjanjian 'Aqabah Dua
Setelah perjanjian 'Aqabah Pertama, Islam
berkembang di tengah penduduk Yatsrib, tahun berikutnya, Mush'ab bin 'Umair
bersama dengan sekelompok orang Muslim Yatsrib datang ke Mekkah untuk bertemu dengan
Nabi Saw, terdapat pula sekelompok yang belum beriman ikut bersama mereka.
Mereka inilah yang membuat perjanjian dengan Rasulullah Saw yang di pertengahan
hari-hari Tasyriq dan di 'Aqabah bertemu satu sama lain. Malam itu, dengan
pelan-pelan dan tersembunyi tanpa diketahui orang-orang kafir, mereka datang ke
'Aqabah. Jumlah mereka tujuh puluh orang laki-laki dan dua orang perempuan yang
bernama Nasibah Binti Ka'ab dan Asma dari Bani Salamah.
Prosesi bai’at ini terdengar sampai kepada
kaum Quroisy dan hal ini membuat para pemimpin ingin menanyakan kepastian
terhadap kaum khazrad. Esok harinya sejumplah besar pemimpin Makkah mencari
kejelasan tentang masalah ini. Mereka
berkata, “saudara-saudara Khazrad, kami mendapat informasi bahwa kalian telah
mendatangi kawan kami untuk mengajaknya keluar dari negri kami, dan kalian juga
ber bai’ad kepadanya untuk memerangi kepada kami. Demi Alloh, tidak ada kaum
Arab yang kami benci melebihi kalian jika melebihi kalian jika sampai meletus
perang antara kami dan kalian.[14]
Tentu saja para kafilah khazrat tidak tahu
tentang hal itu karena bai’at yang dilakukan dari kalangan mereka sendiri
dilakukan secara diam diam yakni ditengah malam.
B.
Nabi sebagai
kepala negara di Madinah.
1.
Latar belakang Rosululloh
hijrah keMadinah
Setelah Perjanjian Aqobah Kedua, Terjadi
hijrah lagi yang diawali dengan hijrahnya kaum Muslimin secara berangsur-angsur
ke Yatsrib hingga akhirnya tinggal Rosul saw, Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib
yang tetap tinggal di Makkah. Setalah orang-orang kafir Quraisy mengetahui para
shahabat Rosul saw pergi meninggalkan Makkah dengan memboyong keluarga,
anak-anak dan harta benda mereka untuk hijrah ke Yatsrib, kekhawatiran dan
kegundahan menghantui orang-orang kafir Quraisy. Mereka tahu persis bagaimana
kepribadian Muhammad saw yang sangat handal dalam mempengaruhi orang lain, di
samping kredibilitas kepemimpinan dan kesempurnaan bimbingannya. Sementara para
shahabatnya juga memiliki semangat membara, tunduk dan siap berkorban membela
beliau.
Kemudian kaum Quraisy mengadakan
konspirasi keji di Darun Nadwah, menghasilkan usulan untuk membunuh Nabi. Ide
tersebut merupakan usulan dari Abu jahal.Usulan Abu Jahal “kita ambil dari
setiap kabilah seorang gagah dari nasab yang mulia sebagai wakil kita. Kita
senjatai masing-masing dengan sebilah pedang yang tajam. Dengan pedang itu
mereka memenggalnya bersama-sama seperti tebasan satu orang. Maka darahnya
terpancar di semua kabilah sehingga Bani Abdul Manaf tidak sanggup
memerangi semua kaumnya. Mereka akan menerima
tebusan dari kita berupa harta, lalu Quraisy terbebas dari si pemecahkbilah-kabilah
itu”.[15]Konspirasi
tersebut terdengar sampai ke Rasululloh melalui Malaikat Jibril, yang
selanjutnya Alloh mengizinkannya untuk berhijrah.
Pelaksanaan konspirasi tersebut
benar-benar dilaksanakan oleh kaum Quraisy, tetap saja mereka gagal toatal.
Pada saat-saat yang kritis itu Rosul saw memerintahkan Ali bin Abu Thalib untuk
tidur di tempat tidur beliau. Kemudian Rosul saw pergi ke rumah Abu Bakar dan
mereka berdua keluar dari rumah Abu Bakar pada tengah malam hingga tiba di gua
Tsaur. Selama 3 hari Rosul saw dan Abu Bakar bermalam di gua tersebut.
Pada hari Senin tanggal 8 Robi'ul Awwal
tahun ke -14 dari kenabian, bertepatan dengan tanggal 23 September 622 M Rosul
saw tiba di Quba'. Beliau berada di Quba selama 4 hari dan mendirikan temat
ibadah di sana. Sementara itu Ali bin Abu Thalib berada di Makkah selama 3
hari, untuk menyelesaikan urusan Rosul saw dengan beberapa orang seperti yang
dipesankan beliau. Setelah itu dia berhijrah ke Yatsrib dengan cara berjalan
kaki, hingga bertemu Rosul saw di Quba'. Pada hari Jum'at beliau melanjutkan
perjalanan menuju Yatsrib. Sholat Jum'at dilaksanakan di Bani Salim binAuf.
Seusai sholat Jum'at Rosul saw memasuki Yatsrib. Sejak itulah Yatsrib dinamakan
Madinatur Rosul.
2.
Bentuk negara
yang didirikan Nabi muhammad
Negara madinah dapat dikatakan sebagai negara dalam pengertian yang
sesungguhnya karena telah memenuhi syarat-syarat pokok pendiri suatu negara
yaitu: wilayah, rakyat, pemerintah, dan undang-undang dasar.
Menurut Munawir Sjadzalli dalam bukunya “Islam dan Tata Negara
Ajaran Sejarah dan Pemikiran” sebagaimana dikutip oleh Muhammad Iqbal dalam
bukunya “Fiqih Syiasah: Kontekstualisasi Doktrin Politik Islam” bahwa piagam
madinah sebagai konstitusi negara Madinah memberi landasan bagi kehidupan
bernegara dalam masyarakat yang majmu’ di Madinah.
Landasan tersebut adalah :
a.
Semua umat
Islam adalah satu kesatuan walaupun berasal dari berbagai suku dan golongan.
b.
Hubungan Intern
komunitas muslim dan hubungan Ekstern antara komunitas muslim dengan non muslim
didasarkan pada prinsip bertetangga baik, saling membantu menghadapi musuh
bersama, membela orang yang teraniaya, saling menasihati, dan menghormati
kebebasan beragama.
Sedangkan dalam roda kepemerintahan Nabi sebagai kepala negara
dalam praktiknya, nabi Muhammad menjalankan pemerintahan yang tidak terpusat
ditangan beliau. Untuk mengambil suatu keputusan politik misalnya, dalam
beberapa kasus Nabi melakukan konsutasi dengan pemuka-pemuka masyarakat. Ada
empat cara yang ditempuh Nabi dalam mengambil keputusan politik, yaitu :
a.
Mengadakan
musyawarah dengan sahabat senior, dalam konteks ini misalnya bagaimana Nabi
dengan sahabat senior bermusyawarah mengenai tawanan perang Badar. Abu Bakar
meminta agar tawanan tersebut dibebaskan dengan syarat meminta tebusan dari
mereka sedangkan Umar menyarankan supaya mereka ibunuh saja.
b.
Meminta
pertimbangan kalangan profesional, dalam hal ini misalnya nabi menerima usulan
Salman Al-farisi untuk membangun bentenga pertahanan dalam perang Ahzab
menghadapi tentara Quraisy dan sekutu-sekutunya dengan menggali parit-parit
disekitar Madinah.
c.
Melemparkan
masalah-masalah tertentu yang biasanya berdampak luas bagi masyarakat kedalam
forum yang lebih besar, untuk hal ini dapat dilihat pada musyawarah Nabi dengan
sahabat tentang strategi perang dalam rangka menghadapi kaum Quraisy Makkah di
perang Uhud.
d.
Mengambil
keputusan sendiri, ada beberapa masalah politik yang langsung diputuskan Nabi
dan mengesampingkan kberatan-keberatan para sahabat, seperti yang terjadi dalam
menghadapi delegasi Quraisy ketika ratifikasi perjanjian Hudaibiyah.[16]
3.
Keunggulan nabi Muhammad Saw
Sebagai Negarawan Yang Unggul
a. Sebagai
Nabi dan Rasul
Baginda diakui sebagai
nabi dan rasul melalui tiga cara iaitu menerusi kitab suci al-Quran,Taurat,
Injil dan Zabur, kedua melalui sifat-sifat kenabian seperti menerima wahyu dan
memiliki sifat mulia seperti Siddiq, amanah, tabliqh, dan fatanah serta melalui
bukti-bukti sejarah. Selain kitab suci, tanda-tanda kenabian baginda sudah diperlihatkan
sewaktu baginda masih kanak-kanak lagi. Dada baginda dibedah oleh malaikat
Jibrail untuk dibersihkan. Selama 13 tahun baginda di Mekah, baginda lebih
dikenali sebagai seorang nabi dan rasul yang membawa agama Islam.
Ada yang menyokong dan
ada pula yang menentang dakwah baginda. Semasa menyebarkan agama Islam, nabi
telah menunjukkan sifat sabar, lemah lembut, toleransi tetapi tegas.Teras
ajaran adalah berpaksikan aspek aqidah, syariat dan akhlak.
Baginda berakhlak
menurut akhlak al-Quran sehingga menjadi insan yang paling sempurna dan menjadi
ikutan seluruh umat manusia. Sebagai pemimpin agama, baginda telah menentukan
beberapa bidang bagi menjamin kesejahteraan masyarakat. Bidang-bidang tersebut
adalah seperti ibadat (solat,puasa,zakat dan lain-lain),nikah-kahwin, jenayah
dan ketatanegaraan serta hubungan antarabangsa.
b. Sebagai
Pemimpin Masyarakat Dan Negarwan
Baginda
terkenal sebagai pemimpin masyarakat dan negarawan
· Semasa
di Madinah, sifat-sifat kepemimpinan baginda dalam masyarakat terserlah kembali.
Baginda melakukan pelbagai langkah seperti:-
· Berjaya
menyatukan semula masyarakat Madinah yang berbilang agama dan keturunan setelah
perpecahan begitu lama.
· Mengeratkan
lagi hubungan di kalangan masyarakat Islam sendiri menerusi usaha gigih
mempersaudarakan orang Ansar dan Muhajirin. Madinah menjadi kuat,aman,stabil
dari segi politik dan ekonomi.
· Mengekalkan
perpaduan masyarakat Madinah dengan menyeru mereka bekerjasama dan bantu-
membantu mempertahankan Kota Madinah dengan penggubalan Piagam Madinah.
· Menegakkan
agama Islam dan tidak menafikan agama-agama lain dan adat budaya bukan Islam.
Tidak memaksa menganut ajaran Islam.
· Ketua-ketua
suku diberi peranan mengendalikan urusan dan masalah anggota suku masing-masing
selagi tidak bercanggah dengan ajaran Islam.
· Membentuk
konsep ummah yang berteraskan kepada kesatuan aqidah dan menolak semangat
assabiyah zaman jahiliyah.
c. Kepimpinan
Politik
Kepimpinan politik nabi
terserlah sejak baginda di kota Mekah lagi seperti dalam menyelesaikan masalah
meletakkan semula Hajar Aswad ke tempat asal di Kaabah akibat banjir yang
melanda Makkah ketika itu.
Dalam perjanjian
Aqabah, baginda menunjukkan kepimpinan politik yang matang sehingga mendapat
sokongan yang baik dari orang Aus dan Khazraj. Sebagai pemimpin politik yang
berkaliber, nabi tidak pernah menunjukkan permusuhan terhadap kaum lain
terutamanya Yahudi, malah terus mengadakan perundingan dengan mereka.
Berjaya menyatukan
suku Aus dan Khazraj menjadi golongan
Ansar dan mempersaudarakan golongan Muhajirin dan Ansar di Madinah. Membentuk
Piagam Madinah sebagai panduan pentadbiran Madinah yang berteraskan wahyu. Dalam
politik di peringkat antarabangsa baginda dianggap diplomat yang berjaya kerana
baginda menghantar perwakilan ke Habsyah, Mesir, Byzantine, dan Parsi bagi
memperkenalkan ajaran Islam. Tidak sampai setengah abad,semua negara tersebut
tunduk di bawah pemerintahan Islam.
d. Sebagai
Perancangan Ekonomi
Nabi sebagai perancang
ekonomi , baginda memperkenalkan dasar ekonomi baru menggantikan dasar ekonomi
jahiliyah. Baginda menggalakkan orang Islam bekerja keras, dan aktif dalam
urusan perniagaan dan pertanian. Masyarakat diminta mengelakkan riba, dan
diwajib menunaikan zakat serta jujur dalama urusniaga.
Nabi berusaha
membangunkan ekonomi Islam dengan menggalakkan tanah-tanah terbiar diusaha
semula, tanah tergadai ditebus semula dan dikerjakan. Telaga-telaga air milik
orang Yahudi yang asalnya milik orang Islam telah dibeli dan dikuasai semula
orang Islam.
e. Menjadi
Pemimpin Tentara
Dalam bidang
ketenteraan,baginda menjadi pemimpin tentera bagi setiap ekspedisi ketenteraan
yang disertainya. Asas ketenteraan baginda adalah berdasarkan aqidah, syariah,
dan akhlak mulia.
Baginda mempunyai
keyakinan ketika menghadapi musuh. Dalam peperangan,baginda bertindak mengikut
batas-batas dan etika yang ditetapkan seperti tidak memerangi golongan
lemah,dan golongan tidak bersenjata, serta tidak memusnahkan harta benda dan
tanaman.
Baginda menunjukkan
akhlak baik dengan perasaan kemanusiaan seperti pernah memulangkan harta benda
musuh yang ditawan (Perang Hunain dan Perang Taif). Kaedah ini menarik minat
musuh untuk memeluk agama Islam.
Rasulullah SAW ialah
seorang pemimpin perang yang cekap dan berpengetahuan luas dalam bidang taktik
dan strategi perang. Contohnya dalam perang Badar, baginda menggunakan sistem
saf, dalam perang Khandak menggunakan sistem pertahanan parit, serta teknik
mengepung dalam perang Taif. Kesimpulan Jelaslah bahawa nabi Muhammad SAW bukan
saja seorang nabi dan rasul yang disegani malah baginda merupakan seorang
pemimpin masyarakat, negarawan, perancang ekonomi, dan pemimpin tentera yang berjaya.
Baginda menonjolkan Islam yang tidak hanya mementingkan aspek akidah, tetapi
juga menitik beratkan hal ehwal kehidupan seharian. Baginda berjaya membina
tamadun Islam dan diwarisi pula oleh khulafa’ al-Rasyidin.[17]
BAB
III
PENUTUP&KESIMPULAN
1.
Nabi Muhammad
sebagai kepala Agama di Makkah
a.
Dimulain dari
Proses pengangkatan Rasulullah Ketika Nabi Muhammad berusia 40 tahun, Saat itu, 17 Ramadlan tahun 13 Sebelum
Hijrah, bertepatan dengan 6 Agustus 610 M, ketika Muhammad sedang berkhalwat di
Gua Hira, Jibril menyampaikan wahyu pertama, yaitu lima ayat dari Surat
Al-’Alaq.
c.
Terjadi bai’at
Aqobah yakni bai’at Aqobah I dan bai’at
Aqobah II
d.
Respon Quraisy
terhadap dakwah Nabi
Pada dakwah sembunyi-sembunyi
respon yang di dakwahi nabi
sangatlah baik, namun pada dakwah terbuka
dan umum perjalanan dakwah di makah,
Rasulullah banyak menghadapi tantangan dan cobaan. Diantaranya;Menghina, melecehkan,
menistakan dan mendustakan bahkan sampai menganiyaya. Tetapi bukan berarti Nabi
tidak juga mendapatkan repon baik, dari kegigihan dan kesabaran Nabi, pada saat
di Makkah juga banyak kaum musyrikin yang masuk kedalam Islam.
2.
Nabi Muhammad
sebagai Kepala Negara di Madinah
a.
Dimulai dari
hijrahnya nabi ke yatsrip yang akhirnya menjadi kota madinah
b.
Negara yang
didirikan Nabi Muhammad berlandaskan sebagai berikut:
1)
Semua umat
Islam adalah satu kesatuan walaupun berasal dari berbagai suku dan golongan.
2)
Hubungan Intern
komunitas muslim dan hubungan Ekstern antara komunitas muslim dengan non muslim
didasarkan pada prinsip bertetangga baik, saling membantu menghadapi musuh
bersama, membela orang yang teraniaya, saling menasihati, dan menghormati
kebebasan beragama.
c.
Keunggulan Nabi
sebagai Negarawan yang unggul
a.
Sebagai Nabi dan Rasul
b.
Sebagai Masyarakat dan Negarawan
c.
Sebagai pemimpin Politik
d.
Sebgai perancang Ekonomi
e.
Sebagai pemimpin Tentara
Daftar Rujukan
Indra
Laksamana, Nabi Muhammad SAW Sebagai Pemimpin dan Pemimpin Negara, dalam
https://limalaras.wordpress.com/2010/02/28 diakses pada
27-10-2015.
KEMENAG AGAMA RI, Sejarah Nabi Muhammad Saw Pada Periode Makkah,dalam
http://bdkjakarta.kemenag.go.id diakses pada 26-10-2015
Mimi Momo, Bukti
Nabi Muhammad SAW Sebagai Negarawan yang Unggul. Dalam www. Academia.edu/6652213/ diakses pada 28-10-2015
Samsul Munir
Amin, Sejarah Peradapan Islam,(Jakarta: Amzah, 2015).
Shafiyurahman
Al- Mubarakfuri, al-Rahiq Al-Makhtum: sirah nabawiyah, sejarah lengkap
kehidupan nabi muhammad, (Jakarta: Qisthi Press, 2014)
Tim FkI Sejarah
ATSHAR M. Haris dkk, Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad SAW Lentera kegelapan
Untuk Mengenal Pendidik Sejati Manusia, (Kediri: Pustaka Gerbang Lama, 2014)
[1] Tim FkI Sejarah ATSHAR M. Haris
dkk, Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad SAW Lentera kegelapan Untuk Mengenal
Pendidik Sejati Manusia, (Kediri: Pustaka Gerbang Lama, 2014) hal. 103
[2]Shafiyurahman Al- Mubarakfuri, al-Rahiq
Al-Makhtum: sirah nabawiyah, sejarah lengkap kehidupan nabi muhammad,
(Jakarta: Qisthi Press, 2014) hal 79
[3]KEMENAG
AGAMA RI, Sejarah Nabi Muhammad Saw Pada Periode Makkah,dalam http://bdkjakarta.kemenag.go.id
diakses pada 26-10-2015
[4]Indra Laksamana, Nabi Muhammad
SAW Sebagai Pemimpin dan Pemimpin Negara, dalam https://limalaras.wordpress.com/2010/02/28
diakses pada 27-10-2015.
[5]Shafiyurahman Al- Mubarakfuri, al-Rahiq
Al-Makhtum: sirah nabawiyah, sejarah lengkap kehidupan nabi muhammad....hal
87
[7]Tim FkI Sejarah ATSHAR M. Haris
dkk, Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad SAW Lentera kegelapan Untuk Mengenal
Pendidik Sejati Manusia... hal. 124
[8]Shafiyurahman Al- Mubarakfuri, al-Rahiq
Al-Makhtum: sirah nabawiyah, sejarah lengkap kehidupan nabi muhammad....hal
87
[12]Tim FkI Sejarah ATSHAR M. Haris
dkk, Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad SAW Lentera kegelapan Untuk Mengenal
Pendidik Sejati Manusia... hal. 135
[13]Samsul Munir Amin, Sejarah
Peradapan Islam,(Jakarta: Amzah, 2015) hal. 67
[14]Shafiyurahman Al- Mubarakfuri, al-Rahiq
Al-Makhtum: sirah nabawiyah, sejarah lengkap kehidupan nabi muhammad....hal
192
[16]Indra Laksamana, Nabi Muhammad
SAW Sebagai Pemimpin dan Pemimpin Negara, dalam https://limalaras.wordpress.com/2010/02/28
diakses pada 27-10-2015.
[17]
Mimi Momo, Bukti
Nabi Muhammad SAW Sebagai Negarawan yang Unggul. Dalam www. Academia.edu/6652213/ diakses pada
28-10-2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar