Kamis, 02 Juni 2016

MAKALAH NABI MUHAMMAD “Sebagai Kepala Agama di Makkah Serta Kepala Negara di Madinah”



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Pemimpin merupakan sebuah figur yang penting didalam kelompok maupun komunitas suatu masyarakat bangsa dan negara, semua itu akan maju dan terarah jika seorang figur atau pemimpin yang berkompeten dan juga atas karunia pemberianTuhan yang Maha Esa.
Pemimpin yang mampu memberi rasa aman tentram, mampu mewujudkan keinginan rakyatnya, maka dianggap pemimpin yang berhasil. Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang di cintai oleh rakyat, bangsanya, pemikirannya dipakai meskipun pemimpin tersebut sudah tidak bersama mereka. Segala perintahnya dilakukan, rakyat membela tanpa diminta terlebih dahulu. Pemimpin  yang berhasil disukai rakyatnya dan disegani lawannya.
Maksud dari figur tersebut adalah rosululloh SAW, yang mana pada pertengahan abad ke enam masehi dunia dalam masa keguncangan dalam kegelapan dan merusak spiritual manusia. Kondisi tersebut terjadi sebelum Nabi Muhammad yang di sebut dengan jaman jahiliyah, kemudian lahirlah sebuah bayi yang membawa perubahan yang sangat besar bagi sejarah peradapan manusia, yang bertempat di Makkah, Ia dikenal sebagai pembawa risalah Rahmatan lil’alamin. Dengan kehadirannya beliau menjadi pelita yang mampu menyinari alam kegelapan yang menjadi terang benderang, beliau juga seorang sosok yang Agung dan penyempurna, yang menjadi Rosul, utusan Alloh yang terakir dikenal dengan sebutan khotamul Ambiya’ (Nabi penutup) para Nabi sebelumnya.
Akhlaqnya yang mulia memberi bekas mendalam bagi siapa saja yang pernah berinteraksi dengannya baik mungsuh, maupun teman, juga jujur, berani, fasih bicaranya, sopan tutur katanya, teguh memegang amanah dan cerdas. Beliau menjadi sosok paling fenomenal yang secara spektakuler berhasil melakukan perubahan dan menciptakan peradaban kemanusiaan, keberhasilan beliau menjadi patut menjadi teladan hidup bagi seluruh ummat.
Kesuksesan beliau dengan akhlaqnya yang mulia mampu mempengarui segala aspek kehidupan merek, termasuk hukum –hukum yang digunakan pada masa itu. Sebagian dari nilai budaya Arab pra Islam, untuk beberapa hal diubah dan diteruskan oleh masyarakat Muhammad ke dalam tatanan moral Islam, disamping itu beliau juga berhasil mendirikan sebuah negara yang disebut negara Madinah.Dengan demikian Nabi Muhammad dikatakan sebagai pemimpin Agama juga sekaligus sebagai kepala Negara, untuk mempermudah pemahaman akan dibahas lebih lanjut.
B.  Fokus Masalah
1.    BagaimanaNabi Muhammad menjadi kepala Agama di Makkah?
2.    Bagaimana Nabi Muhammad menjadi kepala Negara di madinah?
C.  Batasan Masalah
Makalah ini hanya membahas tentang sejarah Nabi menjadi kepala Agama di Makkah dan kepala Negara di Madinah.


BAB II
PEMBAHASAN
A.  Nabi Muhammad sebagai kepala Agama di Makkah
1.    Proses pengangkatan Rasulullah
Menjelang akhir abad ke enam, kota makkah berada dalam krisis spiritual dan moral. Ekonomi pasar yang bergantung pada persaingan tanpa ampun, kerakusan dan usaha pribadi telah mencabik kehidupan masyarakatnya. Keluarga-keluarga kini saling cemburu pada kekayaan keluarga lain. Klan yang kurang berhasil merasa menemuhi jalan buntu dan klan yang sukses tak akan pernah ambil peduli. Mereka bukan hanya mengabaikan nestapa anggota-anggota suku yang lebih miski, melainkan juga menyalah gunakan hak-hak para yatim dan para janda. Orang-orang makkah menjadi pelit, tetapi mereka menyebut bahwa ini  adalah kepekaan bisnis yang yang cerdik, yang kaya semakin kaya sementara yang kalah bersaing merasa semakin kehilangan arah.[1]
Ketika Nabi Muhammad berusia 40 tahun, perenungan panjangnya telah menguasai alam pikiran yang menjadikannya memisahkan diri dari komunitasnya. Beliau akhirnya lebih memilih mengasingkan diri dengan berbekal roti gandum dan ai, tempat yang di tuju adalah Gua Hira yang berada di Jabal Nur, berjarak kurang lebih dua mil dari makkah.[2]
Saat itu, 17 Ramadlan tahun 13 Sebelum Hijrah, bertepatan dengan 6 Agustus 610 M, ketika Muhammad sedang berkhalwat di Gua Hira, Jibril menyampaikan wahyu pertama, yaitu lima ayat dari Surat Al-’Alaq. Dengan turunnya wahyu pertama itu, berarti Muhammad telah dipilih Tuhan sebagai Nabi, yang pada saat itu beliau berusia 40 tahun. Wahyu pertama ini, belum mengandung perintah untuk menyeru manusia kepada suatu agama. Artinya, Muhammad telah diangkat menjadi nabi, tetapi belum menjadi rasul, sebab belum diberi kewajiban menyampaikan risalah.
Setelah wahyu pertama turun, Jibril tidak muncul lagi untuk beberapa lama, selanjutnya turun wahyu sebagai berikut;
a.    Q.S. Al-Muzzammil, 73; 1-9,  yaitu:
يَٰٓأَيُّهَاٱلۡمُزَّمِّلُ ١  قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا ٢  نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ قَلِيلًا ٣  أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا ٤ إِنَّا سَنُلۡقِي عَلَيۡكَ قَوۡلٗا ثَقِيلًا ٥  إِنَّ نَاشِئَةَ ٱلَّيۡلِ هِيَ أَشَدُّ وَطۡ‍ٔٗا وَأَقۡوَمُ قِيلًا ٦ إِنَّ لَكَ فِي ٱلنَّهَارِ سَبۡحٗا طَوِيلٗا ٧  وَٱذۡكُرِٱسۡمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلۡ إِلَيۡهِ تَبۡتِيلٗا ٨ رَّبُّٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَٱتَّخِذۡهُ وَكِيلٗا ٩
1)      Hai orang yang berselimut (Muhammad)
2)      bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya)
3)      (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit
4)      atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan
5)      Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat
6)      Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu´) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan
7)      Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak)
8)      Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan
9)      (Dialah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung
b.    Dan  Q.S. Al-Mudatsir, 74; 1-7 berbunyi:
يَٰٓأَيُّهَاٱلۡمُدَّثِّرُ ١  قُمۡ فَأَنذِرۡ ٢  وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ ٣  وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ ٤  وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ ٥  وَلَا تَمۡنُن تَسۡتَكۡثِرُ ٦  وَلِرَبِّكَ فَٱصۡبِرۡ ٧
1)        Hai orang yang berkemul (berselimut)
2)        bangunlah, lalu berilah peringatan
3)        dan Tuhanmu agungkanlah
4)        dan pakaianmu bersihkanlah
5)        dan perbuatan dosa tinggalkanlah
6)        dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak
7)        Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah
Kedua wahyu ini, menjadi simbol diangkatnya Nabi Muhammad menjadi Rasulullah (utusan Allah) yang dibebani kewajiban menyeru (memberi peringatan) bukan hanya kepada bangsa Arab saja, melainkan kepada seluruh manusia, agar mengikuti yang risalah yang dibawanya.[3]
Pada saat Nabi Muhammad lahir hingga ketika diangkat menjadi Rosul, Beliau SAW tinggal di tengah-tengah kaum Quraisy Makkah yang memiliki daerah mereka yang mirip-mirip Republik (sekarang ini). Mereka sangat jauh dari pertentangan politik, dan struktur di Makkah (saat itu) sehingga, pada awal Nabi Muhammad SAW diutus di tengah-tengah mereka, tujuan dakwah Rasululloh bukan untuk menguasai tampuk kepemimpinan Negara, namun dasarnya adalah mengajak mereka kepada kebenaran, kebaikan, dan keindahan, suatu ajakan yang berdiri sendiri di bawah naungan ajaran Islam.
Namun meski begitu, makkah juga merupakan pusat kegiatan keagamaan bangsa Arab. Di sana penduduk Arab melakukan bebagai bentuk peribadatan di sekeliling kakbah dan menyembah terhadap berhala dan patung-patung yang disucikan oleh bangsa Arab pada kala itu. Dengan kondisi seperti ini, tidak mudah bagi Nabi menyampaikan wahyu keseluruh umat kala itu. Untuk menghadapi kondisi seperti ini, maka pola penyebaran dakwah Islam yang dilakukan oleh Rosululloh dengan cara tiga tahap sesuai situasi dan kondisi yang menyertainya kala itu, yakni Tahap rahasia, Tahap terang-terangan, dan tahap untuk umum.[4]
2.    Respon Masyarakat Makkah Terhadap dakwah Nabi
Respon Masyarakat Makkah terhadap seruan Nabi Muhammad SAW untuk memeluk Islam yang dimulai dari:
a.    dakwah sembunyi-sembunyi
pada fase ini respondakwah Nabi masih sangat positif, karena Beliau menyerukannya kepada orang-orang yang dekat dengan beliau dan diperkirakan akan menyambut positif.Beliau mengenal obyek dakwah pertama itu sebagai orang-orang yang menyukai kebenaran dan kebaikan sementara mereka mengenal beliau sebagai seorang yang baik, jujur dan sholeh.
Diantara orang-orang yang pertama menerima akan kebenaran Aqidah beliau, mereka adalah:[5]
· Khodijah binti Khuwalid, Istri Nabi
· Zaid ibnu Haritsah ibn Syarahil al-Kalbi, mantan budak Nabi SAW
· Ali ibn Abi Tholib, kemenakan Nabi , yang waktu itu masih anak-anak dan diasuh oleh beliau
· Abu Bakar ash-Shiddiq, sahabat karib beliau
Dalam mendakwahkan Islam sahabat karib beliau yakni Abu Bakar ash-Shiddiq juga turun tangan mendakwahkan Islam, Ia merupakan seorang sosok yang penuh simpatik, lembut, luwes pada pergaulan, berakhlaq mulia dan seorang yang cukup dikenal dimasyarakat. Seperti para pemuka kaumnya sering mendatanginya, mereka banyak yang menyukainya karena pengetahuannya, kemampuan berdagang, dan pergaulannya yang baik.[6] Seperti halnya Rasululloh, Abu Bakar mengajak orang-orang untuk masuk Islam, kepada orang yang mempercayainya.
Sehingga pada tahapan dakwah pertama tersebut, Rasululloh berhasil memperoleh pengikut sekitar empat puluh enam orang.[7]Dan mereka yang masuk Islammerupakan orang-orang keturunan Quraisy terdiri dari berbagai suku, kabilah, dan luar suku Quraisy, dan mereka disebut sebagai as-sabiqulal-awwalun.
Sedangkan tanggapan negatif dari dakwah Nabi yaitu setelah berjalan selama tiga tahun, maka terciumlah oleh orang-orang kafir Quraisy. Islam menjadi buah bibir Makkah. Mereka mulai menampakkan ketidak sukaan terhadap orang-orang Islam, namun belum memberikan perhatian yang serius, sebab Rasul memang belum menyerang Agama maupun sesembahan mereka.[8]
b.    Dakwah terang-terangan
Setelah turunnya ayat (Asyura’ :214), dakwah terang-terangan dimulai, dari dakwah antar kerabat yakni Nabi mengumpulkan keluarganya, bani Hasyim, dan juga orang dari bani Abdul Muthalib ibn Abdu manaf. Dalam pertemuan tersebut sebelum dimulai pembicaraan oleh Nabi Abu Lahab angkat bicara, dengan melarang ajaran Beliau dan Nabi pun tidak mengucap sepatah katapun. Pada kesempatan lain, yakni pertemuan kedua beliau mengawali pembicaraan dan Abu Thalib tidak bisa menerima nasihat Nabi karena belum siap untuk meninggalkan Agama nenek moyangnya, namun Abu Thalib akan selalu melindungi Nabi. Sedangkan Abu Lahab berisikeras untuk menghentikannya.
Berdakwah di atas bukit Shofa dengan menyeru suku Quraisy dan tidak ada sedikitpun respon dari mereka, hanya Abu Lahab yang menanggapi dengan caranya yang buruk. Kemudian Nabi SAW mulai menampakkan ibadahnya secara terang-terangan di depan kaum Quraisy dan dakwah beliau lambat laun makin luas diterima. Satu demi satu mereka masuk Islam. Bersamaan dengan itu muncullah sikap antipati dan penentangan dari kaum kerabat yang tidak masuk Islam.[9] Melihat semakin banyaknya orang yang menerima dakwah Nabi mereka melakukan upaya menghalangi jamaah Haji untuk mendengarkan dakwah Nabi, setelah musim haji usai mereka masih saja menghalangi dakwah Nabi dengan menghina, melecehkan, menistakan, mendustakan, meniupkan keraguan, menghalangi manusia mendengarkan Al-Qur’an, bahkan sampai menganiaya terhadap kaum muslimin.
Kala itu Nabi SAW tidak ada yang berani menyentuhnya karena masih mendapat perlindungan dari pamannya Abu Thalib dan bani Hasyim, kecuali Abu Lahab. Namun tetap saja kaum musyrikin melakukan kezaliman terhadap kaum muslim hal ini, Rasululloh mengambil dua langkah strategis, yang di belakang hari mempengarui perjalanan dakwah dan realisasi tujuan beliau.[10]Pertama memilih rumah Arqam ibn Abil Arqam almakzumi sebagai pusat dakwah yang bertempat dikaki bukit shafa yang jauh dari pantauan mungsuh. Keduakaum Muslimin hijrah ke Habasyah yang pada akhirnya sampai disana kaum muslimin diperlakukan dengan sangat baik.
selanjudnya kaum muslimin yang ada di Habasyah mendengar kabar bahwa kaum Quraisy di mekkah sudah memeluk Islam, dan kaum Muslimin pun memutuskan untuk kembali ke Makkah. Sesamapinya disana ternyatakabar itu tidak sesuai dengan faktanya, akirnya kaum muslimin hijrah lagi ke Habasyah walaupun hijrah yang kedua kali ini sangat berat karena dihalang-halangi oleh kaum musyrikin.
Sedangkan Rasululloh masih tetap tinggal di Makkah dan beribadah di depan kaum musrik dan banyak sekali cobaan yang beliau hadapi dari gangguan orang Musyrik Makkah. Pada tahun ke enam kenabian masuklah Hamzah ibn Muthalib seorang jagoan muda dari Quraisy, juga masuknya Umar ibn Khathab seorang yang pemberani, diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, “kami menjadi lebih kuat sejak Umar masuk Islam”.[11] Hadirnya kedua pahlawan besar tersebut berpengaruh terhadap kewibawaan umat Islam.
Kaum Quraisy sudah kehabisan akal untuk menggagalkan dakwah Rasul dan sangat geram untuk membunuhnya namun karena dilindungi oleh pamannya, dan akhirnya kaum Quraisy berdiplomasi dengan pamannya untuk diserahkan kepada mereka dengan segala upaya mereka untuk meluluhkan hati sang paman Nabi, namun tetap gagal.
Sampai disinilah kesabaran kaum Quraisy benar-benar menguap habis tak tersisa. Meskipun begitu mereka tetap saja belum berani menyentuh Nabi Muhammad yang mendapatkan perlindungan Abu Thalib dan Bani Hasyim, keluarga besar ini bahu membahu memberikan perlindungan kepada Rasululloh SAW.[12]Melihat dua klan tersebut melindungi Nabi yang pada akhirnya kaum Quraisy sepakat untuk memboikot terhadap kedua keluarga besar Nabi, kesepakatan itu digantung di kakbah sampai Abu Thalib mau menyerahkan Nabi. Setelah tiga tahun lamanya perjanjian tersebut dibatalkan hal ini disebabkan orang-orang Quraisy pecah mencadi dua kubu ada yang menghendaki pemboikotan dan ada yang tidak. Yang tidak sepakat adanya pemboikotan berisi keras untuk membatalkannya akhirnya bani Abu Thalib dan Bani Hasyim dinyatakan bebas.
Enam bulan setelah pemboikotan , Abdul Muthalib wafatkemudian disusul Istri Nabi siti Khodijah. Hal ini membuat kesedihan Rasul menjadi berat hati, selain itu wafatnya Abdul Muthalib membuat kesempatan pada orang Quraisy musrik lebih leluasa untuk menyakiti Nabi dan orang muslim.
c.    Dakwah kalangan umum.
Yakni dakwah ini dilakukan diluar Makkah, pada tahun kesepuluh kenabian. Nabi pergi ke Thaif dan didampingi oleh Zaid ibn Haritsah sesampainya disana respon terhadap ajakan Nabi ditolak dan dilempari batu sampai terluka sampai akhirnya kembali lagi ke Makkah. Kemudian nabi mendakwahkan Islam kepada kabilah-kabilah Arab.Pada fase ini banyak terjadi sekali cobaan-coabaan yang dihadapi Nabi Karena di Makkah dakawah Nabi Muhammad SAW mendapat rintangan dan tekanan, Hal ini semua hampir menyebabkan Nabi Muhammad putus asasehingga untuk menguatkan hati beliau, Alloh mengutus dan Mengisra’ dan Memi’rajkan beliau pada tahun kesepuluh kenabian itu. Berita tentang Isra’ dan Mi’raj ini menggemparkan masyarakat Makkah, bagi orang kafir, peristiwa ini menjadi propoganda untuk mendustakan Nabi Muhammad, sedangkan bagi orang yang beriman ini merupakan ujian keimanan.

3.    Bai’at Aqobah
Setelah peristiwa Isra’ dan Mi’raj, suatu suatu perkembangan besar bagi kemajuan dakwah Islam terjadi, yaitu dengan datangnya sejumlah penduduk Yatsrib (madinah) untuk berhaji ke Makkah. Mereka terdiri dari dari dua suku yang saling bermusuhan, yaitu suku aus dan khazraj yang masuk islam dalam 3 gelombang. Pada gelombang pertama pada tahun ke-10 kenabian, mereka datang untuk memeluk agama Islam dan menerapkan ajarannya sebagai upaya untuk mendamaikan permusuhan antara kedua suku. Mereka kemudian mendakwahkan Islam di madinah. Gelombang kedua, pada tahun ke-12 kenabian mereka datang kembali menemui nabi dan mengadakan perjanjian yang dikenal dengan “aqabah pertama”.[13]
a.    Perjanjian 'Aqabah Pertama
Dengan kembalinya rombongan tersebut ke Yatsrib, isu tentang Islam di daerah itu mulai beredar dan jumlah orang-orang yang berhasrat pada Islam menjadi bertambah. Tahun berikutnya duabelas orang yang sebagiannya adalah orang-orang yang tahun sebelumnya telah beriman dan sebagian lain adalah orang-orang perolehan yang di tahun haji tersebut bergabung dengan mereka. Dari ke duabelas orang tersebut sepuluh orang dari kaum Khazraj dan dua orang dari Aus dimana mereka datang menemui Nabi Saw di 'Aqabah dan mereka membaiat kepada Beliau.
Setelah orang yang datang dari Yatsrib beriman, mereka ingin Nabi mengirim seorang muballigh untuk mengajarkan Quran dan Islam kepada mereka dan penduduk Yatsrib. Kemudian Rasulullah Saw memberikan tugas tersebut kepada Mus'ab bin 'Umair
b.    Perjanjian 'Aqabah Dua
Setelah perjanjian 'Aqabah Pertama, Islam berkembang di tengah penduduk Yatsrib, tahun berikutnya, Mush'ab bin 'Umair bersama dengan sekelompok orang Muslim Yatsrib datang ke Mekkah untuk bertemu dengan Nabi Saw, terdapat pula sekelompok yang belum beriman ikut bersama mereka. Mereka inilah yang membuat perjanjian dengan Rasulullah Saw yang di pertengahan hari-hari Tasyriq dan di 'Aqabah bertemu satu sama lain. Malam itu, dengan pelan-pelan dan tersembunyi tanpa diketahui orang-orang kafir, mereka datang ke 'Aqabah. Jumlah mereka tujuh puluh orang laki-laki dan dua orang perempuan yang bernama Nasibah Binti Ka'ab dan Asma dari Bani Salamah.
Prosesi bai’at ini terdengar sampai kepada kaum Quroisy dan hal ini membuat para pemimpin ingin menanyakan kepastian terhadap kaum khazrad. Esok harinya sejumplah besar pemimpin Makkah mencari kejelasan  tentang masalah ini. Mereka berkata, “saudara-saudara Khazrad, kami mendapat informasi bahwa kalian telah mendatangi kawan kami untuk mengajaknya keluar dari negri kami, dan kalian juga ber bai’ad kepadanya untuk memerangi kepada kami. Demi Alloh, tidak ada kaum Arab yang kami benci melebihi kalian jika melebihi kalian jika sampai meletus perang antara kami dan kalian.[14]
Tentu saja para kafilah khazrat tidak tahu tentang hal itu karena bai’at yang dilakukan dari kalangan mereka sendiri dilakukan secara diam diam yakni ditengah malam.

B.  Nabi sebagai kepala negara di Madinah.
1.    Latar belakang Rosululloh hijrah keMadinah
Setelah Perjanjian Aqobah Kedua, Terjadi hijrah lagi yang diawali dengan hijrahnya kaum Muslimin secara berangsur-angsur ke Yatsrib hingga akhirnya tinggal Rosul saw, Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib yang tetap tinggal di Makkah. Setalah orang-orang kafir Quraisy mengetahui para shahabat Rosul saw pergi meninggalkan Makkah dengan memboyong keluarga, anak-anak dan harta benda mereka untuk hijrah ke Yatsrib, kekhawatiran dan kegundahan menghantui orang-orang kafir Quraisy. Mereka tahu persis bagaimana kepribadian Muhammad saw yang sangat handal dalam mempengaruhi orang lain, di samping kredibilitas kepemimpinan dan kesempurnaan bimbingannya. Sementara para shahabatnya juga memiliki semangat membara, tunduk dan siap berkorban membela beliau.
Kemudian kaum Quraisy mengadakan konspirasi keji di Darun Nadwah, menghasilkan usulan untuk membunuh Nabi. Ide tersebut merupakan usulan dari Abu jahal.Usulan Abu Jahal “kita ambil dari setiap kabilah seorang gagah dari nasab yang mulia sebagai wakil kita. Kita senjatai masing-masing dengan sebilah pedang yang tajam. Dengan pedang itu mereka memenggalnya bersama-sama seperti tebasan satu orang. Maka darahnya terpancar di semua kabilah sehingga Bani Abdul Manaf tidak sanggup memerangi  semua kaumnya. Mereka akan menerima tebusan dari kita berupa harta, lalu Quraisy terbebas dari si pemecahkbilah-kabilah itu”.[15]Konspirasi tersebut terdengar sampai ke Rasululloh melalui Malaikat Jibril, yang selanjutnya Alloh mengizinkannya untuk berhijrah.
Pelaksanaan konspirasi tersebut benar-benar dilaksanakan oleh kaum Quraisy, tetap saja mereka gagal toatal. Pada saat-saat yang kritis itu Rosul saw memerintahkan Ali bin Abu Thalib untuk tidur di tempat tidur beliau. Kemudian Rosul saw pergi ke rumah Abu Bakar dan mereka berdua keluar dari rumah Abu Bakar pada tengah malam hingga tiba di gua Tsaur. Selama 3 hari Rosul saw dan Abu Bakar bermalam di gua tersebut.
Pada hari Senin tanggal 8 Robi'ul Awwal tahun ke -14 dari kenabian, bertepatan dengan tanggal 23 September 622 M Rosul saw tiba di Quba'. Beliau berada di Quba selama 4 hari dan mendirikan temat ibadah di sana. Sementara itu Ali bin Abu Thalib berada di Makkah selama 3 hari, untuk menyelesaikan urusan Rosul saw dengan beberapa orang seperti yang dipesankan beliau. Setelah itu dia berhijrah ke Yatsrib dengan cara berjalan kaki, hingga bertemu Rosul saw di Quba'. Pada hari Jum'at beliau melanjutkan perjalanan menuju Yatsrib. Sholat Jum'at dilaksanakan di Bani Salim binAuf. Seusai sholat Jum'at Rosul saw memasuki Yatsrib. Sejak itulah Yatsrib dinamakan Madinatur Rosul.
2.    Bentuk negara yang didirikan Nabi muhammad
Negara madinah dapat dikatakan sebagai negara dalam pengertian yang sesungguhnya karena telah memenuhi syarat-syarat pokok pendiri suatu negara yaitu: wilayah, rakyat, pemerintah, dan undang-undang dasar.
Menurut Munawir Sjadzalli dalam bukunya “Islam dan Tata Negara Ajaran Sejarah dan Pemikiran” sebagaimana dikutip oleh Muhammad Iqbal dalam bukunya “Fiqih Syiasah: Kontekstualisasi Doktrin Politik Islam” bahwa piagam madinah sebagai konstitusi negara Madinah memberi landasan bagi kehidupan bernegara dalam masyarakat yang majmu’ di Madinah.
Landasan tersebut adalah :
a.    Semua umat Islam adalah satu kesatuan walaupun berasal dari berbagai suku dan golongan.
b.    Hubungan Intern komunitas muslim dan hubungan Ekstern antara komunitas muslim dengan non muslim didasarkan pada prinsip bertetangga baik, saling membantu menghadapi musuh bersama, membela orang yang teraniaya, saling menasihati, dan menghormati kebebasan beragama.
Sedangkan dalam roda kepemerintahan Nabi sebagai kepala negara dalam praktiknya, nabi Muhammad menjalankan pemerintahan yang tidak terpusat ditangan beliau. Untuk mengambil suatu keputusan politik misalnya, dalam beberapa kasus Nabi melakukan konsutasi dengan pemuka-pemuka masyarakat. Ada empat cara yang ditempuh Nabi dalam mengambil keputusan politik, yaitu :
a.    Mengadakan musyawarah dengan sahabat senior, dalam konteks ini misalnya bagaimana Nabi dengan sahabat senior bermusyawarah mengenai tawanan perang Badar. Abu Bakar meminta agar tawanan tersebut dibebaskan dengan syarat meminta tebusan dari mereka sedangkan Umar menyarankan supaya mereka ibunuh saja.
b.    Meminta pertimbangan kalangan profesional, dalam hal ini misalnya nabi menerima usulan Salman Al-farisi untuk membangun bentenga pertahanan dalam perang Ahzab menghadapi tentara Quraisy dan sekutu-sekutunya dengan menggali parit-parit disekitar Madinah.
c.    Melemparkan masalah-masalah tertentu yang biasanya berdampak luas bagi masyarakat kedalam forum yang lebih besar, untuk hal ini dapat dilihat pada musyawarah Nabi dengan sahabat tentang strategi perang dalam rangka menghadapi kaum Quraisy Makkah di perang Uhud.
d.   Mengambil keputusan sendiri, ada beberapa masalah politik yang langsung diputuskan Nabi dan mengesampingkan kberatan-keberatan para sahabat, seperti yang terjadi dalam menghadapi delegasi Quraisy ketika ratifikasi perjanjian Hudaibiyah.[16]


3.    Keunggulan nabi Muhammad Saw Sebagai Negarawan Yang Unggul
a.    Sebagai Nabi dan Rasul
Baginda diakui sebagai nabi dan rasul melalui tiga cara iaitu menerusi kitab suci al-Quran,Taurat, Injil dan Zabur, kedua melalui sifat-sifat kenabian seperti menerima wahyu dan memiliki sifat mulia seperti Siddiq, amanah, tabliqh, dan fatanah serta melalui bukti-bukti sejarah. Selain kitab suci, tanda-tanda kenabian baginda sudah diperlihatkan sewaktu baginda masih kanak-kanak lagi. Dada baginda dibedah oleh malaikat Jibrail untuk dibersihkan. Selama 13 tahun baginda di Mekah, baginda lebih dikenali sebagai seorang nabi dan rasul yang membawa agama Islam.
Ada yang menyokong dan ada pula yang menentang dakwah baginda. Semasa menyebarkan agama Islam, nabi telah menunjukkan sifat sabar, lemah lembut, toleransi tetapi tegas.Teras ajaran adalah berpaksikan aspek aqidah, syariat dan akhlak.
Baginda berakhlak menurut akhlak al-Quran sehingga menjadi insan yang paling sempurna dan menjadi ikutan seluruh umat manusia. Sebagai pemimpin agama, baginda telah menentukan beberapa bidang bagi menjamin kesejahteraan masyarakat. Bidang-bidang tersebut adalah seperti ibadat (solat,puasa,zakat dan lain-lain),nikah-kahwin, jenayah dan ketatanegaraan serta hubungan antarabangsa.
b.    Sebagai Pemimpin Masyarakat Dan Negarwan
Baginda terkenal sebagai pemimpin masyarakat dan negarawan
·    Semasa di Madinah, sifat-sifat kepemimpinan baginda dalam masyarakat terserlah kembali. Baginda melakukan pelbagai langkah seperti:-
·    Berjaya menyatukan semula masyarakat Madinah yang berbilang agama dan keturunan setelah perpecahan begitu lama.
·    Mengeratkan lagi hubungan di kalangan masyarakat Islam sendiri menerusi usaha gigih mempersaudarakan orang Ansar dan Muhajirin. Madinah menjadi kuat,aman,stabil dari segi politik dan ekonomi.
·    Mengekalkan perpaduan masyarakat Madinah dengan menyeru mereka bekerjasama dan bantu- membantu mempertahankan Kota Madinah dengan penggubalan Piagam Madinah.
·    Menegakkan agama Islam dan tidak menafikan agama-agama lain dan adat budaya bukan Islam. Tidak memaksa menganut ajaran Islam.
·    Ketua-ketua suku diberi peranan mengendalikan urusan dan masalah anggota suku masing-masing selagi tidak bercanggah dengan ajaran Islam.
·    Membentuk konsep ummah yang berteraskan kepada kesatuan aqidah dan menolak semangat assabiyah zaman jahiliyah.
c.    Kepimpinan Politik
Kepimpinan politik nabi terserlah sejak baginda di kota Mekah lagi seperti dalam menyelesaikan masalah meletakkan semula Hajar Aswad ke tempat asal di Kaabah akibat banjir yang melanda Makkah ketika itu.
Dalam perjanjian Aqabah, baginda menunjukkan kepimpinan politik yang matang sehingga mendapat sokongan yang baik dari orang Aus dan Khazraj. Sebagai pemimpin politik yang berkaliber, nabi tidak pernah menunjukkan permusuhan terhadap kaum lain terutamanya Yahudi, malah terus mengadakan perundingan dengan mereka.
Berjaya menyatukan suku  Aus dan Khazraj menjadi golongan Ansar dan mempersaudarakan golongan Muhajirin dan Ansar di Madinah. Membentuk Piagam Madinah sebagai panduan pentadbiran Madinah yang berteraskan wahyu. Dalam politik di peringkat antarabangsa baginda dianggap diplomat yang berjaya kerana baginda menghantar perwakilan ke Habsyah, Mesir, Byzantine, dan Parsi bagi memperkenalkan ajaran Islam. Tidak sampai setengah abad,semua negara tersebut tunduk di bawah pemerintahan Islam.
d.   Sebagai Perancangan Ekonomi
Nabi sebagai perancang ekonomi , baginda memperkenalkan dasar ekonomi baru menggantikan dasar ekonomi jahiliyah. Baginda menggalakkan orang Islam bekerja keras, dan aktif dalam urusan perniagaan dan pertanian. Masyarakat diminta mengelakkan riba, dan diwajib menunaikan zakat serta jujur dalama urusniaga.
Nabi berusaha membangunkan ekonomi Islam dengan menggalakkan tanah-tanah terbiar diusaha semula, tanah tergadai ditebus semula dan dikerjakan. Telaga-telaga air milik orang Yahudi yang asalnya milik orang Islam telah dibeli dan dikuasai semula orang Islam.
e.    Menjadi Pemimpin Tentara
Dalam bidang ketenteraan,baginda menjadi pemimpin tentera bagi setiap ekspedisi ketenteraan yang disertainya. Asas ketenteraan baginda adalah berdasarkan aqidah, syariah, dan akhlak mulia.
Baginda mempunyai keyakinan ketika menghadapi musuh. Dalam peperangan,baginda bertindak mengikut batas-batas dan etika yang ditetapkan seperti tidak memerangi golongan lemah,dan golongan tidak bersenjata, serta tidak memusnahkan harta benda dan tanaman.
Baginda menunjukkan akhlak baik dengan perasaan kemanusiaan seperti pernah memulangkan harta benda musuh yang ditawan (Perang Hunain dan Perang Taif). Kaedah ini menarik minat musuh untuk memeluk agama Islam.  
Rasulullah SAW ialah seorang pemimpin perang yang cekap dan berpengetahuan luas dalam bidang taktik dan strategi perang. Contohnya dalam perang Badar, baginda menggunakan sistem saf, dalam perang Khandak menggunakan sistem pertahanan parit, serta teknik mengepung dalam perang Taif. Kesimpulan Jelaslah bahawa nabi Muhammad SAW bukan saja seorang nabi dan rasul yang disegani malah baginda merupakan seorang pemimpin masyarakat, negarawan, perancang ekonomi, dan pemimpin tentera yang berjaya. Baginda menonjolkan Islam yang tidak hanya mementingkan aspek akidah, tetapi juga menitik beratkan hal ehwal kehidupan seharian. Baginda berjaya membina tamadun Islam dan diwarisi pula oleh khulafa’ al-Rasyidin.[17]
BAB III
PENUTUP&KESIMPULAN
1.    Nabi Muhammad sebagai kepala Agama di Makkah
a.       Dimulain dari Proses pengangkatan Rasulullah Ketika Nabi Muhammad berusia 40 tahun,  Saat itu, 17 Ramadlan tahun 13 Sebelum Hijrah, bertepatan dengan 6 Agustus 610 M, ketika Muhammad sedang berkhalwat di Gua Hira, Jibril menyampaikan wahyu pertama, yaitu lima ayat dari Surat Al-’Alaq.
c.    Terjadi bai’at Aqobah yakni bai’at  Aqobah I dan bai’at Aqobah II
d.   Respon Quraisy terhadap dakwah Nabi
Pada dakwah sembunyi-sembunyi  respon  yang di dakwahi nabi sangatlah baik, namun pada dakwah  terbuka dan umum perjalanan dakwah  di makah, Rasulullah banyak menghadapi tantangan dan cobaan. Diantaranya;Menghina, melecehkan, menistakan dan mendustakan bahkan sampai menganiyaya. Tetapi bukan berarti Nabi tidak juga mendapatkan repon baik, dari kegigihan dan kesabaran Nabi, pada saat di Makkah juga banyak kaum musyrikin yang masuk kedalam Islam.
2.    Nabi Muhammad sebagai Kepala Negara di Madinah
a.    Dimulai dari hijrahnya nabi ke yatsrip yang akhirnya menjadi kota madinah
b.    Negara yang didirikan Nabi Muhammad berlandaskan sebagai berikut:
1)   Semua umat Islam adalah satu kesatuan walaupun berasal dari berbagai suku dan golongan.
2)   Hubungan Intern komunitas muslim dan hubungan Ekstern antara komunitas muslim dengan non muslim didasarkan pada prinsip bertetangga baik, saling membantu menghadapi musuh bersama, membela orang yang teraniaya, saling menasihati, dan menghormati kebebasan beragama.
c.    Keunggulan Nabi sebagai Negarawan yang unggul
a.    Sebagai Nabi dan Rasul
b.    Sebagai Masyarakat dan Negarawan
c.    Sebagai pemimpin Politik
d.   Sebgai perancang Ekonomi
e.    Sebagai pemimpin Tentara

Daftar Rujukan
Indra Laksamana, Nabi Muhammad SAW Sebagai Pemimpin dan Pemimpin Negara, dalam https://limalaras.wordpress.com/2010/02/28 diakses pada 27-10-2015.
KEMENAG AGAMA RI, Sejarah Nabi Muhammad Saw Pada Periode Makkah,dalam http://bdkjakarta.kemenag.go.id diakses pada 26-10-2015
Mimi Momo, Bukti Nabi Muhammad SAW Sebagai Negarawan yang Unggul. Dalam  www. Academia.edu/6652213/ diakses pada 28-10-2015
Samsul Munir Amin, Sejarah Peradapan Islam,(Jakarta: Amzah, 2015).
Shafiyurahman Al- Mubarakfuri, al-Rahiq Al-Makhtum: sirah nabawiyah, sejarah lengkap kehidupan nabi muhammad, (Jakarta: Qisthi Press, 2014)
Tim FkI Sejarah ATSHAR M. Haris dkk, Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad SAW Lentera kegelapan Untuk Mengenal Pendidik Sejati Manusia, (Kediri: Pustaka Gerbang Lama, 2014)

[1] Tim FkI Sejarah ATSHAR M. Haris dkk, Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad SAW Lentera kegelapan Untuk Mengenal Pendidik Sejati Manusia, (Kediri: Pustaka Gerbang Lama, 2014) hal. 103
[2]Shafiyurahman Al- Mubarakfuri, al-Rahiq Al-Makhtum: sirah nabawiyah, sejarah lengkap kehidupan nabi muhammad, (Jakarta: Qisthi Press, 2014) hal 79
[3]KEMENAG AGAMA RI, Sejarah Nabi Muhammad Saw Pada Periode Makkah,dalam http://bdkjakarta.kemenag.go.id diakses pada 26-10-2015
[4]Indra Laksamana, Nabi Muhammad SAW Sebagai Pemimpin dan Pemimpin Negara, dalam https://limalaras.wordpress.com/2010/02/28  diakses pada 27-10-2015.
[5]Shafiyurahman Al- Mubarakfuri, al-Rahiq Al-Makhtum: sirah nabawiyah, sejarah lengkap kehidupan nabi muhammad....hal 87
[6]Ibid... hal. 87
[7]Tim FkI Sejarah ATSHAR M. Haris dkk, Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad SAW Lentera kegelapan Untuk Mengenal Pendidik Sejati Manusia... hal. 124
[8]Shafiyurahman Al- Mubarakfuri, al-Rahiq Al-Makhtum: sirah nabawiyah, sejarah lengkap kehidupan nabi muhammad....hal 87
[9]Ibid... hal.94
[10]Ibid ... hal.117
[11]Ibid ... hal.136
[12]Tim FkI Sejarah ATSHAR M. Haris dkk, Sejarah Kehidupan Nabi Muhammad SAW Lentera kegelapan Untuk Mengenal Pendidik Sejati Manusia... hal. 135
[13]Samsul Munir Amin, Sejarah Peradapan Islam,(Jakarta: Amzah, 2015) hal. 67
[14]Shafiyurahman Al- Mubarakfuri, al-Rahiq Al-Makhtum: sirah nabawiyah, sejarah lengkap kehidupan nabi muhammad....hal 192
[15]Ibid... hal. 198-199
[16]Indra Laksamana, Nabi Muhammad SAW Sebagai Pemimpin dan Pemimpin Negara, dalam https://limalaras.wordpress.com/2010/02/28  diakses pada 27-10-2015.
                                                                 
[17] Mimi Momo, Bukti Nabi Muhammad SAW Sebagai Negarawan yang Unggul. Dalam  www. Academia.edu/6652213/ diakses pada 28-10-2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar