Sabtu, 18 Juni 2016

Al-Razi filsafat lima kekal

"Al-Razi filsafat lima kekal"

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Pada masa lampau Islam yakni abad pertengahan merupakan sebuah prestasi yang sangat gemilang yang ditandai dengan adanya imu pengetahuan dan mempunyai pengaruh besar terhadap dunia, hal ini tidak lepas dari seorang tokoh-tokoh Islam pada waktu itu salah satu tokoh Islam tersebut adalah Abu Bakar Muhammad Ibn Zakariya Ibn Yahya ar-Razi da dikenal dengan nama Ar-Razi.
Ar-Razi merupakan salah satu tokoh filsafat Islam yang hidup pada abad pertengahan, juga merupakan seorang ilmuan muslim yang kreatif dalam mengembangkan khazanah ilmu pengetahuan. Ar-Razi menjadi salah satu tokoh ilmuan yang sangat ulet, tekun dan aktif dalam bekerja maupun dalam mencari dan menggali ilmu pengetahuan, terbukti dengan adanya buku-buku karya beliau yang meliputi bidang kedokteran, filsafat, kimia, astronomi, tata bahasa, teologi, logika dan ilmu pengetahuan lain.
Ar-Razi mula-mula dikenal seorang dokter, pada abad pertengahan dansangat masyhur, dan kemasyhurannya ini terkenal tidak hanya di timur saja tetapi terdengar sampai kebarat, dengan sebutan Razhes dan sampai hari ini ilmu kedokteran masih menjadi rujukan.
Selain Ar-Razi dikenal seorang dokter, Ia adalah seorang filosuf muslim yang unggul, hal itu karena ada beberapa faktor yang mempengaruhinya:
·    keberadannya di bagian timur yang  menjadi penyerap pertama filsafat yunani melalui injeksi penaklukan alexander the great ,
·    masa hidupnya berada pada awal dan hangatnya semangat pertumbuhan peradapan (keilmuan) islam atau pada gelombang hellenisme pertama (750-950),
·    Dia berguru kepadaseorang doktor dan filosof
·    dan juga Potensi intelektualnya yang cukup memadai.
Berangkat dari hal tersebut fisafat Ar-Razi dapat dikatakan solid.Maka pembahasan ini merupakan pembahasan terhadap sumbangan Ar-Razi terhadap umat Islam dalam bidang filsafat,  yang terkenal dengat “filsafat lima kekal” yaitu Tuhan, Ruh, Materi, Ruang, dan Waktu, yang bagus untuk di kaji dan telusuri. Salah satu untuk menambah ilmu pengetahuandari para pakar pemikir Islam terdahulu.

B.  Rumusan Masalah
1.    Bagaimana biografi?
2.    Bagaimana pemikiran Al-Razi tentang filsafat lima kekal?
C.  Tujuan Pembahasan
1.    Untuk mengetahuai biografi Ar-Razi
2.    Untuk mengetahui Bagaimana pemikiran Al-Razi tentang filsafat lima kekal



BAB II
PEMBAHASAN
A.  Biografi dan Karya AR-Razi
Ar-Razi nama lengkapnya Abu Bakar Muhammad Ibn Zakariya Ibn Yahya ar-Razi yang lahir di di Ray dekat Teheran pada 1 Sya’ban 251 H (865 M), dan nama Razinya diambil dari nama kota tersebut. Dan dikota tersebut Ar-Razi meninggal pada 5 Sya’ban 313 H (27 Oktober 925 M) setelah menderita sakit katarak yang dia tolak untuk diobati dengan pertimbangan, sudah cukup banyak dunia yang pernah dilihatnya, dan tidak ingin melihatnya lagi.[1]
Pada masa mudanya ia seorang penyanyi atau musisi,juga menjadi tukang intan, dan penukar uang (money Changer),Ar-Razi merupakan seorang yang ulet dalam bekerja dan belajar, karenanya tidak heran kalau ia tampak menonjol dibanding rekan-rekan semasanya.
Kemuadian ia menaruh perhatian yang besar terhadap ilmu kimia dan meninggalkannya setelah matanya terserang penyakit akibat eksperimen-eksperimen yang dilakukannya. Setelah itu, ia beralih dan mendalami ilmu kedokteran dan filsafat.[2]
Ketertarikan Ar-Razi dalam mendalami ilmu kedokteran dan filsafat, berguru kepadaseorang dokter dan juga filosof yang lahir di Merv pada tahun 192 H/808 M yang bernama Ali ibnu Rabban Al Thabari. Kemungkinan ini pula yang menumbuhkan minat Ar-Razi untuk bergulat dengat filsafat Agama, karena ayah guru tersebut adalah seorang pendeta Yahudi yang ahli dalam kitab-kitab suci.[3]
Dalam tugasnya di bidang kedokteran Ar-Razi mendapatkan reputasi yang sangat baik sehingga Ia diangkat menjadi kepala rumah sakit selama enam tahun di tanah kelahirannya pada masa Gubernur Manshur ibn Ishaq ibn Ahmad ibn As’ad.
Pada masa ini juga Ar-Razi menulis buku al-Thibb al-Mansuri yang dipersembahkan kepada Manshur ibn Ishaq ibn Ahmad. Dari Ray kemudian Ar-Razi pergi ke Baghdad, dan atas permintaan Khalifah Al-Muktafi (289-295 H), yang berkuasa pada waktu itu, ia memimpin lembaga ilmiah dan rumah sakit Maristan di Baghdad.[4] Dalam menjalankan profesi kedokteran, ia dikenal pemurah, sayang kepada pasien-pasiennya, dermawan kepada orang-orang miskin dengan memberikan pengobatan kepada mereka secara cuma-cuma. Hitti mengatakan bahwa Ar-Razi adalah seorang dokter dan pendidik yang paling besar dan paling orisinil dari seluruh dokter muslim,  pendidik yang sangat perhatian terhadap murid-muridnya, dan juga seorang penulis yang paling produktif.[5]Sarton dalam Introduction to the History of Science memberikan komentar; orang kreatif terbesar abad ini adalah Zakaria Ar-Razi, seorang Muslim Persia, seorang dokter dan juga pengajar terbesar Islam dari seluruh ilmuan abad pertengahan.[6]   
Sebagai seorang ilmuan yang produktif dalam menulis Ar-Razi mempunyai banyak sekali karya ilmiah ibnu usaibah menyebutkan ada sekitar 232 buku dan risalah. “Ia sendiri mengaku dalam sebuah karya auto biografis bahwa ia telah menyusun tidak kurang dari 200 karya tentang semua bidang pengetahuan fisika dan meafisika”.[7] Dalam karya-karyanya yang paling besar yaitu tentang ilmu kedokteran sebagian lainnya berkaitan dengan filsafat, kimia, astronomi, teologi, logika dan ilmu lainnya.
Adapun sebagian karya-karya Ar-Razi adalah sebagai berikut:
1.    Sekumpulan Risalah logika berkenaan dengan kategori-kategori, demostraasi, isagoge dengan logika seperti yang dinyatakan dalam ungkapan kalam Islam.

2.    Sekumpulan risalah metafisika pada umumnya.
3.    Materi mutlak dan partikular.
4.    Plenum dan Vacum, ruang dan waktu.
5.    Fisika.
6.    Bahwa dunia mempunyai pencipta yang bijaksana.
7.    Tentang keabadian dan ketidak abadian Tuhan.
8.    Sanggahan terhadap proclus.
9.    Opini fisika “plutarch” (placita philosophorum).
10.     Sebuah komentar tentang Timaeus.
11.     Sebuah komentar terhadap komentar Plutarch tentang Timaeus.
12.     Sebuah risalah yang menunjukkan bahwa benda-benda bergerak dengan sendirinya dan bahwa gerakan itu pada hakikatnya adalah milik mereka.
13.     Obat pencahar rohani (Spiritual Physic)
14.     Jalan filosofis.
15.     Tentang jiwa.
16.     Tentang perkataan iman yang tidak bisa salah.
17.     Sebuah sanggahan terhadap kaum mu’tazilah.
18.     Metafisika menurut ajaran Plato.
19.     Metafisika menurut ajaran Sokrates.
20.     Al-Hawi.
21.     Risalah tentang filsafat.
22.     Pengobatan Rohani.
23.     Sejarah Filsafat.
24.     Makolah tentang metafisika.
25.     Maqolah fiimaaraatil al-iqbali wa al-daulah.
26.     Tentang kelezatan dan ilmu ketuhanan serta ilmu prinsip yang kekal.[8]
Dari daftar karya yang disebutkan di atas masih sebagian kecil saja yang bisa disebutkan dan masih banyak lagi karya-karya Ar-Razi, yang luarbisa dari buku Ar-Razi satu judul buku bisa mencapai 20 jilid, namun dalam hal ini yang terpenting adalah mengenai ilmu filsafatnya.
B.  Ajaran Filsafat Lima Kekal
Ajaran Ar-Razi Mengenai filsafat lima kekal ini tak lain dipengaruhi oleh ajaran filsafat yunani kuno, yang besar kemungkinan terinspirasi dari pemikiran Platonik dan etik tulisannya didapat dari gagasan-gagasan moralitas Sokratik. Prinsip lima kekal tersebutterdiri dari Tuhan, ruh, Materi, ruang, dan waktu:
1.    Tuhan( الباري تعالى )
Dasar keyakinan atas kekekalan Tuhan adalah keyakinan bahwa adanya alam ini karena ada yang menciptakan. Ar-Razi tidak mengajukan pembuktian tentang kekekalan Pencipta. Tidak sebagaimana Plato yang memandang dunia diciptakan dan abadi untuk selamanya (everlasting), ar-Razi memberikan proposisi aksiomatik dengan mempercapai bahwa dunia ini diciptakan dalam interval waktu tertentu dan bersifat sementara (transient).[9]
Pencipta alam tiada lain selain Zat Yang Maha Kekal (Qadim), Maha Kuasa, Maha Tahu, Maha Pandai dan Maha Bijaksana (tam al-‘ilm wa al-hikmah), Yang tiada lalai dan alpa (la sahw wa gaflah), yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Kehidupan terpancarkan dari hadirat Maha Pencipta laksana cahaya yang terpencar dari sinar mentari. Tuhan memancarkan karunia-Nya berupa kesempurnaan akal serta jiwa yang menerangi kehidupan hingga dapat mengatasi kebodohan, sekaligus mengatasi kepasifan (la fi’l wa la infi ‘al) materi. Oleh karena itu, menurutnya alam semesta tidak kadim, meskipun materi asalnya qadim, sebab penciptaan di sini dalam arti disusun dari bahan yang telah ada. Penciptaan dari tiada, bagi Al-Razi, tidak dapat dipertahankan secara logis. Pasalnya, dari satu sisi bahan alam yang tersusun dari tanah, udara, air, api, dan benda-benda langit berasal dari materi pertama yang telah ada sejak zaman azali.[10]


2.    Ruh (Jiwa Universal) ( النفس الكلية  )
Di antara lima hal yang kekal terdapat dua dzat yang hidup dan bergerak (hayyani fa ‘ilani), yakni Tuhan dan ruh (al-Bari wa an-Nafs),   ar-Razi tidak berusaha membuktikan kekekalan ruh maupun Tuhan. Ruh dipandang sebagai keabadian lain selain Tuhan karena berasal dari jiwa universal yang bersifat kekal. Ruh adalah substansi murni, tak tersusun substansi lain (jauhar mujarrad). Ruh memiliki sifat bodoh., dan hanya dapat mengetahui sesuatu berdasarkan pengalaman. Kebodohan menyebabkan ruh tertarik kepada materi (tamil ila at-ta’alluq bi al-huyula) dan berupaya membuat bentuk darinya untuk memperoleh kebahagiaan kebendaan (tathlub al-ladzdzah), tetapi materi menolak.
Tuhan tahu bahwa ruh membutuhkan kesenanagan materi. Tuhan yang semula tidak berkehendak mencipta kemudian membentuk alam untuk menolong ruh agar ia beroleh kesenangan materi (al-ladzdzah) di dalamnya. Namun demikian bukan berarti kehendak Tuhan berlangsung atas dorongan pihak lain (ruh). Di tengah alam Tuhan menciptakan bentuk-bentuk yang kuat, termasuk manusia agar ruh dapat bertempat di dalamnya serta memperoleh kebahagiaan jasmani.
Begitu pula Allah menciptakan akal. Ia merupakan limpahan dari Allah. Tujuan penciptaannya untuk menyadarkan jiwa yang terlena dalam fisik manusia, bahwa tubuh itu bukanlah tempat yang sebenarnya, bukan tempat kebahagiaan dan tempat abadi.[11]
Kesenangan dalam dunia benda tidak akan membebaskan ruh dari rasa sakit (la tanfakk ‘an al-alam). Kebodohan menyebabkan ruh tidak mengetahui bahwa kesenangan sejati yang bebas dari penderitaan (al-ladzdzah al-khaliyyah ‘an al-alam) bukan terletak pada materi, tapi ketika terbebas dari jeratan materi. Guna mengingatkan ruh agar senantiasa menyadari dunia sejatinya. Tuhan memancarkan Jiwa Rasional berupa kecerdasan akal (al-‘aql/intelegensi). Iluminasi akal atas ruh menyadarkannya atas tempat kebahagiaan sejati, yang dapat dicapai dengan mempelajari filsafat sebagai pengasah pikiran. Keyakinan atas keabadian, doktrin perpindahan jiwa (metempsvchosis) serta peran filsafat sebagai jalan tembus (path way) ke arah purifikasi dan pembebasan jiwa dari belenggu materi (tubuh) merefleksikan pengaruh pemikiran platonic-phytagorean.[12]
Dengan mempelajari filsafat, ruh dapat mengetahui dunia sejatinya, memperoleh pengetahuanm, serta dapat membersihkan diri. Bila tidak demikian, maka ruh tidak akan selamat dari keadaan buruk, tidak dapat kembali ke tempat asalnya, serta akan selalu tinggal di alam materi. Ruh akan tetap di dunia materi hingga disadarkan kembali oleh filsafat tentang rahasia dirinya. Bila seluruh ruh sudah bersih, alam ini akan hancur, dan seluruh materi kembali ke tempat asalnya.[13]
Tuhan mengarahkan pada kemurnian ruh dari materi melalui penganugerahan akal, sebab keterperangkapan ruh pada materi merupakan bibit-bibit kejahatan. Pembebasan ruh dari unsur-unsur materi berarti menghapus keraguan akan kekekalan dunia sekaligus menghapus kejahatan. Namun demikian, bukan berarti kejahatan akan hapus sama sekali, dikarenakan keterperangkapan ruh pada materi tidak mungkin sepenuhnya dihilangkan.
3.    Materi Absolut(الهيولى الأولى )
Pandangan ar-Razi tentang materi mengacu pada pandangan platonic dan pra-Sokratik. Pandangan ar-Razi cenderung atomistis, terutama lebih dekat pada pemikiran Demokritos.[14] Ar-Razi meyakini bahwa alam dan segala yang ada di dalamnya diciptakan Allah dari sesuatu (unsur-unsur) yang lain. Ia menolak pandangan creation ex nihilo, sebab menurutnya segala sesuatu pasti diciptakan dari bahan atau materi lain.
Setiap materi tersusun oleh partikel-partikel atom yang mempunyai volume tertentu hingga dapat disusun dan dibentuk. Atom-atom tersebut menghasilkan lima unsur, yaitu: bumi, udara, api, air dan unsur eter (celestial element). Sifat-sifat unsur tersebut; terang, berat, buram, padat, dan transparan, digunakan untuk menjelaskan komposisi materi berdasarkan proporsi unsur dan kehampaannya. Unsur bumi (jauhar al-ardl) tersusun oleh substansi yang lebih padat. Substansi yang lebih renggang menjadi unsur air (jauhar al-ma’), kemudian lebih renggang lagi unsur udara (jauhar al-hawa’), dan unsur api (jauhar al-nar) merupakan unsur paling renggang.
Hancurnya materi ataupun dunia ini tidak akan menjadikan substansi penyusunnya musnah tanpa bekas, melainkan hanya menjadi serpihan-serpihan materi yang lain. Bila serpihan tersebut terus terurai, maka akan sampai pada partikel atom, partikel terkecil yang tidak bisa dibagi lagi. Atom atom yang tidak terbagi itu menurut Al-Razi mempunyai volume. Oleh karena itu, ia dapat dibentuk, dengan penyususnan atom-atom tersebut terbentuklah dunia. Partikel-partikel materi alam menentukan kualitas-kualitas primer dari materi tersebut. Partikel yang lebih padat menjadi unsur tanah, partikel yang lebih renggang dari pada unsur tanah menjadi unsur air, partikel yang lebih renggang lagi menjadi unsur udara, dan yang jauh lebih renggang menjadi unsur api.[15] Konsep kekekalan materi ini tidak bertentangan dengan barunya alam, sebab penciptaan alam dimulai sejak penyusunan materi, bukan sejak penciptaannya. Karena itulah materi dipandang sebagai sesuatu yang kekal.
Kekekalan materi dicoba dibuktikan oleh ar-Razi dengan memberikan dua argumentasi:
a.       Penciptaan dari tiada adalah mustahil. Berdasarkan pengamatan (al-istiqra’ al-kulli), segala sesuatu terjadi dengan susunan, melalui proses, bukan dengan cara sekejap mata. Karena itu Tuhan tidak mungkin membuat sesuatu tanpa bahan (creation ex nihilo).

b.      Bila alaminidiciptakan, tentusaja ada Penciptanya. Tuhan menciptakan sesuatu dengan materi yang terbentuk. Kekuatan Pencipta (Tuhan) diperlukan guna membentuk dan menyusun materi itu. Jika Penciptanya kekal, maka materi yang dikenai kekuatan Pencipta juga kekal.
4.    Ruang (المكان المطلق )
Berbeda dengan Aristoteles, ar-Razi memahami ruang (al-makan/locus) sebagai konsep abstrak, di mana ruang tidak dapat dipisahkan dari tubuh (inseparable from body).[16] Setiap wujud (al-mutamakkin) memerlukan ruang sebagai tempat berwujud, karena itu ruang pasti ada. Ruang merupakan tempat bagi setiap yang wujud maupun yang bukan wujud. Karena materi yang menempati ruang bersifat kekal, maka ruang tempat materi berada juga kekal.
Ar-Razi membedakan ruang ke dalam dua bagian, yaitu ruang relatif (al-makan al-mudaf) dan ruang absolut (al-makan al-mutlaq). Ruang relatif adalah ruang yang terbatas, yang adanya tergantung pada adanya wujud yang menempati. Bila tidak ada yang menempati, maka ruang itu tidak ada.
Sedangkan ruang absolut adalah ruang yang ditempati oleh seluruh materi. Ruang absolut merupakan tempat beredarnya materi, baik sebelum atau sesudah diciptakan, bahkan setelah hancurnya alam menjadi materi-materi yang lain. Keberadaan ruang ini tidak tergantung adanya benda-benda angkasa. Tanpa benda apapun ruang tetap ada. Ar-Razi mencontohkan ruang absolut dengan sebuah bejana yang berisi benda-benda. Bila benda-benda tersebut diangkat dari bejana, maka bejananya tidak terangkat.
Ar-Razi juga menjadikan kekekalan materi sebagai dasar keyakinan atas kekalnya ruang. Ruang adalah tempat adanya wujud fisik (al-jism). Setiap yang wujud pasti menempati ruang, sedang yang di luar wujud tersebut ada ruang dan bukan ruang, karena itu yang menempati ruang terdiri dari yang wujud dan yang bukan wujud. Jika bukan ruang, sesuatu itu pasti wujud yang terbatas, dan jika bukan wujud sesuatu itu tentu ruang. Wujud itu terbatas karena ia ada dalam ruang, mengingat ruang itu tidak terbatas, dan ketidakterbatasannya menunjukkan bahwa sesuatu itu kekal (qadim). Al Razi mengatakan bahwa wujud (tubuh) memerluakan ruang dan ia tidak mungkin ada tanpa adanya ruang, tetapi ruang bisa ada tanpa adanya wujud tersebut.[17]
5.    Waktu Absolut(الزمان المطلق )
Waktu adalah substansi yang mengalir (jauhar yajri), merentang (mumtadd) dan kekal (qadim). Waktu tudak dapat dipahami sebagai jumlah gerak benda (‘adad harakah al-jism) sebagaimana pendapat Aristoteles dan para pengikutnya. Dua benda yang begerak dalam waktu yang bersamaan tidak mungkin menghasilkan jumlah waktu yang berbeda. Ini selaras dengan Transyahri yang memandang bahwa zaman (az-Zaman), keberlangsungan (ad-dahr) dan materi (al-maddah) tidak lain hanyalah nama yang maknanya kembali pada substansi yang satu.
Ar-Razi membedakan waktu menjadi dua: waktu mutlak atau waktu absolut (ad-dahr) dan waktu terbatas (al-mahsur). Waktu yang terbatas (al-waqt/time) ditentukan berdasarkan pergerakan falak, seperti terbit dan tenggelamnya matahari, sehingga bisa diukur (measurable). Perhitungan atas gerakan planet tersebut menyebabkan waktu terbatas dapat dibagi-bagi menjadi segmen-segmen waktu, mulai dari hari, bulan, tahun dan seterusnya. Waktu yang hanya ditentukan berdasarkan rotasi maupun gerak bola bumi mengitari matahari merupakan waktu terbatas.
Adapun waktu absolut yang disebut juga dengan al-dahr (keberlangsungan) akan senantiasa kekal dan bergerak, tanpa harus tergantung pada pergerakan falak. Waktu absolut ini digunakan ar-Razi untuk menjelaskan waktu sebelum dan sesudah diciptakan dan fananya alam ini. Waktu mutlak dapat dipahami dari kekekalan gerak dan perubahan materi dalam ruang yang tak terbatas dan kekal, karena itu waktu absolut juga kekal. Dengan demikian, waktu mutlak atau absolut, menurut Al-Razi, sudah ada sebelum adanya waktu terbatas ini yang terikat dengan gerakan bola bumi.[18]
prinsip lima kekal diatas dalam sistematisnaya yaitu dua prinsip pertama mengenai pecipta dan jiwa (ruh). merupakan sama-sama kekal namun ruh/jiwa membutuhkan materi, dengan menyatukan dari bentuk material. Namun materipun juga membutuhkan ruang dan ia merupakan sesuatu yang abstrak tidak terbatas sekaligus kekal, sedangkan waktu terdapat dua yaitu waktu terbatas yang dihubungkan dengan materi dan waktu yang universal tidak terbatas.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1.      Ar-Razinama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad Ibn Zakariya Ibn Yahya ar-Razi. Ia lahir di Ray dekat Teheran pada 1 Sya’ban 251 H (865 M),Dan dikota tersebut Ar-Razi meninggal pada 5 Sya’ban 313 H (27 Oktober 925 M). Masa mudanya seorang penyanyi atau musisi, juga menjadi tukang intan, dan penukar uang (money Changer), kemudian menjadi seorang doktor yang unggul sampai dipercaya untuk memimpin rumah sakit di Ray. Ar-Razi merupakan seorang yang ulet dalam bekerja dan belajar,Kemudian  Ar-Razi dalam mendalami ilmu kedokteran dan filsafat, berguru kepada seorang dokter dan juga filosof yang lahir di Merv pada tahun 192 H/808 M. Dalam karyanya yang paling besar yaitu tentang ilmu kedokteran sebagian lainnya berkaitan dengan filsafat, kimia, astronomi, teologi, logika dan ilmu lainnya
2.      Filsafat ar-Razi terkenal dengan filsafatlima kekal yaitu, Tuhan( الباري تعالى ), Ruh (Jiwa Universal)( النفس الكلية  ), Materi Absolut( الهيولى الأولى ), Ruang( المكان المطلق ), Waktu Absolut( الزمان المطلق ).
B. Kritik dan Saran
Dengan tersusunnya makalah ini, kami mengharap semoga bermanfaat bagi penulis khususnya, dan umumnya bagi pembaca.
Penyusun menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan makalah ini, untuk itu kritik dan saran demi perbaikan dan pengembangan makalah ini sangat kami harapkan.



[1]Abdurrahman Badawi, Muhammad Ibn Zakariya ar-Razi, dalam M.M. Sharif (ed), A History of Muslim Philosophy, (Otto Harrassowitz: Wisbaden, 1963),hal. 436
[2] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam Filsof dan Filsafatnya, (Jakarta: Raja Grafindo, 2007)hal. 113-114
[3] A. Mustofa, FilsafatIslam, (Bandung:Pustaka Setia, 2004) hal. 115
[4]Ali Al-Jumbulati, Dirasat al-Muqaranat fi at-Tarbiyah al-Islamiyah, terjemahan HM. Arifin M.Ed., (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), hal. 34
[5]Philip K. Hitti, History of the Arabs, (London: Macmillan, 1974), hal. 365
[6]Mehdi Nakosteen, Konstribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat, Terjemahan Joko S. Kahhar, (Surabaya: Risalah Gusti, 1996), hal. 213
[7] Sudarsono, FilsafatIslam, (Jakarta: Rineka Cipta: 2004), hal.54
[8]Ibid.., hal. 55
[9]Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, (New York: Columbia University Press, 1983), hal. 105
[10] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam..., hal. 117
[11]Ibid., hal. 118
[12]Majid Fakhry, A History..., hal. 105
[13]Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1983),  hal. 23
[14]M. Saeed Sheikh, Studies in Muslim Philosophy, (Delhi: Adam Publisher  & Distributors, 1994),  hal. 70
[15] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam..., hal. 119
[16]Majid Fakhry, A History..., hal. 103
[17] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam..., hal. 120
[18]Ibid., hal. 120
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar