"Al-Razi filsafat lima kekal"
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Pada masa lampau Islam yakni abad
pertengahan merupakan sebuah prestasi yang sangat gemilang yang ditandai dengan
adanya imu pengetahuan dan mempunyai pengaruh besar terhadap dunia, hal ini
tidak lepas dari seorang tokoh-tokoh Islam pada waktu itu salah satu tokoh
Islam tersebut adalah Abu Bakar Muhammad Ibn Zakariya Ibn Yahya ar-Razi da
dikenal dengan nama Ar-Razi.
Ar-Razi
merupakan salah satu tokoh filsafat Islam yang hidup pada abad pertengahan,
juga merupakan seorang ilmuan muslim yang kreatif dalam mengembangkan khazanah
ilmu pengetahuan. Ar-Razi menjadi salah satu tokoh ilmuan yang sangat ulet,
tekun dan aktif dalam bekerja maupun dalam mencari dan menggali ilmu
pengetahuan, terbukti dengan adanya buku-buku karya beliau yang meliputi bidang
kedokteran, filsafat, kimia, astronomi, tata bahasa, teologi, logika dan ilmu
pengetahuan lain.
Ar-Razi
mula-mula dikenal seorang dokter, pada abad pertengahan dansangat masyhur, dan kemasyhurannya
ini terkenal tidak hanya di timur saja tetapi terdengar sampai kebarat, dengan
sebutan Razhes dan sampai hari ini ilmu kedokteran masih menjadi rujukan.
Selain
Ar-Razi dikenal seorang dokter, Ia adalah seorang filosuf muslim yang unggul,
hal itu karena ada beberapa faktor yang mempengaruhinya:
· keberadannya
di bagian timur yang menjadi penyerap
pertama filsafat yunani melalui injeksi penaklukan alexander the great ,
· masa
hidupnya berada pada awal dan hangatnya semangat pertumbuhan peradapan
(keilmuan) islam atau pada gelombang hellenisme pertama (750-950),
· Dia
berguru kepadaseorang
doktor dan filosof
· dan
juga Potensi intelektualnya yang cukup memadai.
Berangkat
dari hal tersebut fisafat Ar-Razi dapat dikatakan solid.Maka pembahasan ini
merupakan pembahasan terhadap sumbangan Ar-Razi terhadap umat Islam dalam
bidang filsafat, yang terkenal dengat
“filsafat lima kekal” yaitu Tuhan, Ruh, Materi, Ruang, dan Waktu, yang bagus
untuk di kaji dan telusuri. Salah satu untuk menambah ilmu pengetahuandari para
pakar pemikir Islam terdahulu.
B. Rumusan
Masalah
1. Bagaimana biografi?
2. Bagaimana pemikiran Al-Razi tentang filsafat lima kekal?
C. Tujuan
Pembahasan
1.
Untuk mengetahuai biografi Ar-Razi
2.
Untuk mengetahui Bagaimana pemikiran Al-Razi tentang filsafat lima kekal
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Biografi
dan Karya AR-Razi
Ar-Razi nama lengkapnya Abu Bakar
Muhammad Ibn Zakariya Ibn Yahya ar-Razi yang lahir di di Ray dekat Teheran pada
1 Sya’ban 251 H (865 M), dan nama Razinya diambil dari nama kota tersebut. Dan
dikota tersebut Ar-Razi meninggal pada 5 Sya’ban 313 H (27 Oktober 925 M)
setelah menderita sakit katarak yang dia tolak untuk diobati dengan
pertimbangan, sudah cukup banyak dunia yang pernah dilihatnya, dan tidak ingin
melihatnya lagi.[1]
Pada masa mudanya ia seorang
penyanyi atau musisi,juga menjadi tukang intan, dan penukar uang (money
Changer),Ar-Razi merupakan seorang yang ulet dalam bekerja dan belajar,
karenanya tidak heran kalau ia tampak menonjol dibanding rekan-rekan semasanya.
Kemuadian
ia menaruh perhatian yang besar terhadap ilmu kimia dan meninggalkannya setelah
matanya terserang penyakit akibat eksperimen-eksperimen yang dilakukannya.
Setelah itu, ia beralih dan mendalami ilmu kedokteran dan filsafat.[2]
Ketertarikan Ar-Razi dalam mendalami
ilmu kedokteran dan filsafat, berguru kepadaseorang dokter dan juga filosof
yang lahir di Merv pada tahun 192 H/808 M yang bernama Ali ibnu Rabban Al
Thabari. Kemungkinan ini pula yang menumbuhkan minat Ar-Razi untuk bergulat
dengat filsafat Agama, karena ayah guru tersebut adalah seorang pendeta Yahudi
yang ahli dalam kitab-kitab suci.[3]
Dalam tugasnya di bidang kedokteran
Ar-Razi mendapatkan reputasi yang sangat baik sehingga Ia diangkat menjadi
kepala rumah sakit selama enam tahun di tanah kelahirannya pada masa Gubernur
Manshur ibn Ishaq ibn Ahmad ibn As’ad.
Pada masa ini juga Ar-Razi menulis
buku al-Thibb al-Mansuri yang dipersembahkan kepada Manshur ibn Ishaq
ibn Ahmad. Dari Ray kemudian Ar-Razi pergi ke Baghdad, dan atas permintaan
Khalifah Al-Muktafi (289-295 H), yang berkuasa pada waktu itu, ia memimpin
lembaga ilmiah dan rumah sakit Maristan di Baghdad.[4]
Dalam menjalankan profesi kedokteran, ia dikenal pemurah, sayang kepada
pasien-pasiennya, dermawan kepada orang-orang miskin dengan memberikan
pengobatan kepada mereka secara cuma-cuma. Hitti mengatakan bahwa Ar-Razi
adalah seorang dokter dan pendidik yang paling besar dan paling orisinil dari
seluruh dokter muslim, pendidik yang sangat perhatian terhadap
murid-muridnya, dan juga seorang penulis yang paling produktif.[5]Sarton
dalam Introduction to the History of Science memberikan komentar; orang
kreatif terbesar abad ini adalah Zakaria Ar-Razi, seorang Muslim Persia,
seorang dokter dan juga pengajar terbesar Islam dari seluruh ilmuan abad
pertengahan.[6]
Sebagai seorang ilmuan yang
produktif dalam menulis Ar-Razi mempunyai banyak sekali karya ilmiah ibnu
usaibah menyebutkan ada sekitar 232 buku dan risalah. “Ia sendiri mengaku dalam
sebuah karya auto biografis bahwa ia telah menyusun tidak kurang dari 200 karya
tentang semua bidang pengetahuan fisika dan meafisika”.[7]
Dalam karya-karyanya yang paling besar yaitu tentang ilmu kedokteran sebagian
lainnya berkaitan dengan filsafat, kimia, astronomi, teologi, logika dan ilmu
lainnya.
Adapun sebagian karya-karya Ar-Razi
adalah sebagai berikut:
1. Sekumpulan Risalah logika berkenaan
dengan kategori-kategori, demostraasi, isagoge dengan logika seperti yang
dinyatakan dalam ungkapan kalam Islam.
2. Sekumpulan risalah metafisika pada
umumnya.
3. Materi mutlak dan partikular.
4. Plenum dan Vacum, ruang dan waktu.
5. Fisika.
6. Bahwa dunia mempunyai pencipta yang
bijaksana.
7. Tentang keabadian dan ketidak
abadian Tuhan.
8. Sanggahan terhadap proclus.
9. Opini fisika “plutarch” (placita
philosophorum).
10. Sebuah komentar tentang Timaeus.
11. Sebuah komentar terhadap komentar
Plutarch tentang Timaeus.
12. Sebuah risalah yang menunjukkan
bahwa benda-benda bergerak dengan sendirinya dan bahwa gerakan itu pada
hakikatnya adalah milik mereka.
13. Obat pencahar rohani (Spiritual
Physic)
14. Jalan filosofis.
15. Tentang jiwa.
16. Tentang perkataan iman yang tidak
bisa salah.
17. Sebuah sanggahan terhadap kaum
mu’tazilah.
18. Metafisika menurut ajaran Plato.
19. Metafisika menurut ajaran Sokrates.
20. Al-Hawi.
21. Risalah tentang filsafat.
22. Pengobatan Rohani.
23. Sejarah Filsafat.
24. Makolah tentang metafisika.
25. Maqolah fiimaaraatil al-iqbali wa
al-daulah.
26. Tentang kelezatan dan ilmu ketuhanan
serta ilmu prinsip yang kekal.[8]
Dari daftar karya yang disebutkan di
atas masih sebagian kecil saja yang bisa disebutkan dan masih banyak lagi
karya-karya Ar-Razi, yang luarbisa dari buku Ar-Razi satu judul buku bisa
mencapai 20 jilid, namun dalam hal ini yang terpenting adalah mengenai ilmu
filsafatnya.
B. Ajaran
Filsafat Lima Kekal
Ajaran
Ar-Razi Mengenai filsafat lima kekal ini tak lain dipengaruhi oleh ajaran
filsafat yunani kuno, yang besar kemungkinan terinspirasi dari pemikiran
Platonik dan etik tulisannya didapat dari gagasan-gagasan moralitas Sokratik.
Prinsip lima kekal tersebutterdiri dari Tuhan, ruh, Materi, ruang, dan waktu:
1. Tuhan( الباري
تعالى )
Dasar keyakinan atas kekekalan Tuhan
adalah keyakinan bahwa adanya alam ini karena ada yang menciptakan. Ar-Razi
tidak mengajukan pembuktian tentang kekekalan Pencipta. Tidak sebagaimana Plato
yang memandang dunia diciptakan dan abadi untuk selamanya (everlasting),
ar-Razi memberikan proposisi aksiomatik dengan mempercapai bahwa dunia ini
diciptakan dalam interval waktu tertentu dan bersifat sementara (transient).[9]
Pencipta alam tiada lain selain Zat
Yang Maha Kekal (Qadim), Maha Kuasa, Maha Tahu, Maha Pandai dan Maha
Bijaksana (tam al-‘ilm wa al-hikmah), Yang tiada lalai dan alpa (la
sahw wa gaflah), yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Kehidupan terpancarkan dari
hadirat Maha Pencipta laksana cahaya yang terpencar dari sinar mentari. Tuhan
memancarkan karunia-Nya berupa kesempurnaan akal serta jiwa yang menerangi
kehidupan hingga dapat mengatasi kebodohan, sekaligus mengatasi kepasifan (la
fi’l wa la infi ‘al) materi. Oleh karena itu, menurutnya alam semesta tidak
kadim, meskipun materi asalnya qadim, sebab penciptaan di sini dalam arti
disusun dari bahan yang telah ada. Penciptaan dari tiada, bagi Al-Razi, tidak
dapat dipertahankan secara logis. Pasalnya, dari satu sisi bahan alam yang
tersusun dari tanah, udara, air, api, dan benda-benda langit berasal dari
materi pertama yang telah ada sejak zaman azali.[10]
2. Ruh (Jiwa Universal) ( النفس
الكلية )
Di antara lima hal yang kekal
terdapat dua dzat yang hidup dan bergerak (hayyani fa ‘ilani), yakni
Tuhan dan ruh (al-Bari wa an-Nafs), ar-Razi tidak berusaha
membuktikan kekekalan ruh maupun Tuhan. Ruh dipandang sebagai keabadian lain
selain Tuhan karena berasal dari jiwa universal yang bersifat kekal. Ruh adalah
substansi murni, tak tersusun substansi lain (jauhar mujarrad). Ruh
memiliki sifat bodoh., dan hanya dapat mengetahui sesuatu berdasarkan
pengalaman. Kebodohan menyebabkan ruh tertarik kepada materi (tamil ila
at-ta’alluq bi al-huyula) dan berupaya membuat bentuk darinya untuk
memperoleh kebahagiaan kebendaan (tathlub al-ladzdzah), tetapi materi
menolak.
Tuhan tahu bahwa ruh membutuhkan
kesenanagan materi. Tuhan yang semula tidak berkehendak mencipta kemudian
membentuk alam untuk menolong ruh agar ia beroleh kesenangan materi (al-ladzdzah)
di dalamnya. Namun demikian bukan berarti kehendak Tuhan berlangsung atas
dorongan pihak lain (ruh). Di tengah alam Tuhan menciptakan bentuk-bentuk yang
kuat, termasuk manusia agar ruh dapat bertempat di dalamnya serta memperoleh
kebahagiaan jasmani.
Begitu pula Allah menciptakan akal.
Ia merupakan limpahan dari Allah. Tujuan penciptaannya untuk menyadarkan jiwa
yang terlena dalam fisik manusia, bahwa tubuh itu bukanlah tempat yang
sebenarnya, bukan tempat kebahagiaan dan tempat abadi.[11]
Kesenangan dalam dunia benda tidak
akan membebaskan ruh dari rasa sakit (la tanfakk ‘an al-alam). Kebodohan
menyebabkan ruh tidak mengetahui bahwa kesenangan sejati yang bebas dari
penderitaan (al-ladzdzah al-khaliyyah ‘an al-alam) bukan terletak pada
materi, tapi ketika terbebas dari jeratan materi. Guna mengingatkan ruh agar
senantiasa menyadari dunia sejatinya. Tuhan memancarkan Jiwa Rasional berupa
kecerdasan akal (al-‘aql/intelegensi). Iluminasi akal atas ruh
menyadarkannya atas tempat kebahagiaan sejati, yang dapat dicapai dengan
mempelajari filsafat sebagai pengasah pikiran. Keyakinan atas keabadian,
doktrin perpindahan jiwa (metempsvchosis) serta peran filsafat sebagai
jalan tembus (path way) ke arah purifikasi dan pembebasan jiwa dari
belenggu materi (tubuh) merefleksikan pengaruh pemikiran platonic-phytagorean.[12]
Dengan mempelajari filsafat, ruh
dapat mengetahui dunia sejatinya, memperoleh pengetahuanm, serta dapat
membersihkan diri. Bila tidak demikian, maka ruh tidak akan selamat dari
keadaan buruk, tidak dapat kembali ke tempat asalnya, serta akan selalu tinggal
di alam materi. Ruh akan tetap di dunia materi hingga disadarkan kembali oleh
filsafat tentang rahasia dirinya. Bila seluruh ruh sudah bersih, alam ini akan
hancur, dan seluruh materi kembali ke tempat asalnya.[13]
Tuhan mengarahkan pada kemurnian ruh
dari materi melalui penganugerahan akal, sebab keterperangkapan ruh pada materi
merupakan bibit-bibit kejahatan. Pembebasan ruh dari unsur-unsur materi berarti
menghapus keraguan akan kekekalan dunia sekaligus menghapus kejahatan. Namun
demikian, bukan berarti kejahatan akan hapus sama sekali, dikarenakan
keterperangkapan ruh pada materi tidak mungkin sepenuhnya dihilangkan.
3. Materi Absolut(الهيولى
الأولى )
Pandangan ar-Razi tentang materi
mengacu pada pandangan platonic dan pra-Sokratik. Pandangan ar-Razi cenderung
atomistis, terutama lebih dekat pada pemikiran Demokritos.[14]
Ar-Razi meyakini bahwa alam dan segala yang ada di dalamnya diciptakan Allah
dari sesuatu (unsur-unsur) yang lain. Ia menolak pandangan creation ex
nihilo, sebab menurutnya segala sesuatu pasti diciptakan dari bahan atau
materi lain.
Setiap materi tersusun oleh partikel-partikel
atom yang mempunyai volume tertentu hingga dapat disusun dan dibentuk.
Atom-atom tersebut menghasilkan lima unsur, yaitu: bumi, udara, api, air dan
unsur eter (celestial element). Sifat-sifat unsur tersebut; terang,
berat, buram, padat, dan transparan, digunakan untuk menjelaskan komposisi
materi berdasarkan proporsi unsur dan kehampaannya. Unsur bumi (jauhar
al-ardl) tersusun oleh substansi yang lebih padat. Substansi yang lebih
renggang menjadi unsur air (jauhar al-ma’), kemudian lebih renggang lagi
unsur udara (jauhar al-hawa’), dan unsur api (jauhar al-nar)
merupakan unsur paling renggang.
Hancurnya materi ataupun dunia ini
tidak akan menjadikan substansi penyusunnya musnah tanpa bekas, melainkan hanya
menjadi serpihan-serpihan materi yang lain. Bila serpihan tersebut terus
terurai, maka akan sampai pada partikel atom, partikel terkecil yang tidak bisa
dibagi lagi. Atom atom yang tidak terbagi itu menurut Al-Razi mempunyai volume.
Oleh karena itu, ia dapat dibentuk, dengan penyususnan atom-atom tersebut
terbentuklah dunia. Partikel-partikel materi alam menentukan kualitas-kualitas
primer dari materi tersebut. Partikel yang lebih padat menjadi unsur tanah,
partikel yang lebih renggang dari pada unsur tanah menjadi unsur air, partikel
yang lebih renggang lagi menjadi unsur udara, dan yang jauh lebih renggang
menjadi unsur api.[15]
Konsep kekekalan materi ini tidak bertentangan dengan barunya alam, sebab
penciptaan alam dimulai sejak penyusunan materi, bukan sejak penciptaannya.
Karena itulah materi dipandang sebagai sesuatu yang kekal.
Kekekalan materi dicoba dibuktikan
oleh ar-Razi dengan memberikan dua argumentasi:
a. Penciptaan dari tiada adalah
mustahil. Berdasarkan pengamatan (al-istiqra’ al-kulli), segala sesuatu
terjadi dengan susunan, melalui proses, bukan dengan cara sekejap mata. Karena
itu Tuhan tidak mungkin membuat sesuatu tanpa bahan (creation ex nihilo).
b. Bila
alaminidiciptakan, tentusaja ada Penciptanya. Tuhan menciptakan sesuatu dengan materi yang terbentuk.
Kekuatan Pencipta (Tuhan) diperlukan guna membentuk dan menyusun materi itu.
Jika Penciptanya kekal, maka materi yang dikenai kekuatan Pencipta juga kekal.
4. Ruang (المكان
المطلق )
Berbeda dengan Aristoteles, ar-Razi
memahami ruang (al-makan/locus) sebagai konsep abstrak, di mana ruang
tidak dapat dipisahkan dari tubuh (inseparable from body).[16]
Setiap wujud (al-mutamakkin) memerlukan ruang sebagai tempat berwujud,
karena itu ruang pasti ada. Ruang merupakan tempat bagi setiap yang wujud
maupun yang bukan wujud. Karena materi yang menempati ruang bersifat kekal,
maka ruang tempat materi berada juga kekal.
Ar-Razi membedakan ruang ke dalam
dua bagian, yaitu ruang relatif (al-makan al-mudaf) dan ruang absolut (al-makan
al-mutlaq). Ruang relatif adalah ruang yang terbatas, yang adanya tergantung
pada adanya wujud yang menempati. Bila tidak ada yang menempati, maka ruang itu
tidak ada.
Sedangkan ruang absolut adalah ruang
yang ditempati oleh seluruh materi. Ruang absolut merupakan tempat beredarnya
materi, baik sebelum atau sesudah diciptakan, bahkan setelah hancurnya alam
menjadi materi-materi yang lain. Keberadaan ruang ini tidak tergantung adanya
benda-benda angkasa. Tanpa benda apapun ruang tetap ada. Ar-Razi mencontohkan
ruang absolut dengan sebuah bejana yang berisi benda-benda. Bila benda-benda
tersebut diangkat dari bejana, maka bejananya tidak terangkat.
Ar-Razi juga menjadikan kekekalan
materi sebagai dasar keyakinan atas kekalnya ruang. Ruang adalah tempat adanya
wujud fisik (al-jism). Setiap yang wujud pasti menempati ruang, sedang
yang di luar wujud tersebut ada ruang dan bukan ruang, karena itu yang
menempati ruang terdiri dari yang wujud dan yang bukan wujud. Jika bukan ruang,
sesuatu itu pasti wujud yang terbatas, dan jika bukan wujud sesuatu itu tentu
ruang. Wujud itu terbatas karena ia ada dalam ruang, mengingat ruang itu tidak
terbatas, dan ketidakterbatasannya menunjukkan bahwa sesuatu itu kekal (qadim).
Al Razi mengatakan bahwa wujud (tubuh) memerluakan ruang dan ia tidak mungkin
ada tanpa adanya ruang, tetapi ruang bisa ada tanpa adanya wujud tersebut.[17]
5. Waktu Absolut(الزمان
المطلق )
Waktu adalah substansi yang mengalir (jauhar yajri),
merentang (mumtadd) dan kekal (qadim). Waktu tudak dapat dipahami
sebagai jumlah gerak benda (‘adad harakah al-jism) sebagaimana pendapat Aristoteles
dan para pengikutnya. Dua benda yang begerak dalam waktu yang bersamaan tidak
mungkin menghasilkan jumlah waktu yang berbeda. Ini selaras dengan Transyahri
yang memandang bahwa zaman (az-Zaman), keberlangsungan (ad-dahr)
dan materi (al-maddah) tidak lain hanyalah nama yang maknanya kembali
pada substansi yang satu.
Ar-Razi membedakan waktu menjadi dua: waktu mutlak atau
waktu absolut (ad-dahr) dan waktu terbatas (al-mahsur). Waktu
yang terbatas (al-waqt/time) ditentukan berdasarkan pergerakan falak,
seperti terbit dan tenggelamnya matahari, sehingga bisa diukur (measurable).
Perhitungan atas gerakan planet tersebut menyebabkan waktu terbatas dapat
dibagi-bagi menjadi segmen-segmen waktu, mulai dari hari, bulan, tahun dan
seterusnya. Waktu yang hanya ditentukan berdasarkan rotasi maupun gerak bola
bumi mengitari matahari merupakan waktu terbatas.
Adapun waktu absolut yang disebut juga dengan al-dahr (keberlangsungan)
akan senantiasa kekal dan bergerak, tanpa harus tergantung pada pergerakan
falak. Waktu absolut ini digunakan ar-Razi untuk menjelaskan waktu sebelum dan
sesudah diciptakan dan fananya alam ini. Waktu mutlak dapat dipahami dari
kekekalan gerak dan perubahan materi dalam ruang yang tak terbatas dan kekal,
karena itu waktu absolut juga kekal. Dengan demikian, waktu mutlak atau
absolut, menurut Al-Razi, sudah ada sebelum adanya waktu terbatas ini yang
terikat dengan gerakan bola bumi.[18]
prinsip
lima kekal diatas dalam sistematisnaya yaitu dua prinsip pertama mengenai
pecipta dan jiwa (ruh). merupakan sama-sama kekal namun ruh/jiwa membutuhkan
materi, dengan menyatukan dari bentuk material. Namun materipun juga
membutuhkan ruang dan ia merupakan sesuatu yang abstrak tidak terbatas
sekaligus kekal, sedangkan waktu terdapat dua yaitu waktu terbatas yang dihubungkan
dengan materi dan waktu yang universal tidak terbatas.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.
Ar-Razinama lengkapnya adalah Abu Bakar
Muhammad Ibn Zakariya Ibn Yahya ar-Razi. Ia lahir di Ray dekat Teheran pada 1
Sya’ban 251 H (865 M),Dan
dikota tersebut Ar-Razi meninggal pada 5 Sya’ban 313 H (27 Oktober 925 M). Masa
mudanya seorang penyanyi atau musisi, juga menjadi tukang intan, dan penukar
uang (money Changer), kemudian menjadi seorang doktor yang unggul sampai
dipercaya untuk memimpin rumah sakit di Ray. Ar-Razi merupakan seorang yang
ulet dalam bekerja dan belajar,Kemudian
Ar-Razi dalam mendalami ilmu kedokteran dan filsafat, berguru kepada
seorang dokter dan juga filosof yang lahir di Merv pada tahun 192 H/808 M. Dalam
karyanya yang paling besar yaitu tentang ilmu kedokteran sebagian lainnya
berkaitan dengan filsafat, kimia, astronomi, teologi,
logika dan ilmu lainnya
2.
Filsafat ar-Razi terkenal dengan filsafatlima
kekal yaitu, Tuhan( الباري
تعالى ), Ruh (Jiwa Universal)(
النفس الكلية ), Materi
Absolut( الهيولى
الأولى ), Ruang( المكان المطلق ),
Waktu Absolut( الزمان المطلق ).
B. Kritik dan Saran
Dengan tersusunnya makalah ini, kami
mengharap semoga bermanfaat bagi penulis khususnya, dan umumnya bagi pembaca.
Penyusun menyadari bahwa masih banyak
kekurangan dan kesalahan dalam penulisan makalah ini, untuk itu kritik dan
saran demi perbaikan dan pengembangan makalah ini sangat kami harapkan.
[1]Abdurrahman Badawi, Muhammad Ibn Zakariya
ar-Razi, dalam M.M. Sharif (ed), A History of Muslim Philosophy, (Otto
Harrassowitz: Wisbaden, 1963),hal. 436
[2] Sirajuddin Zar, Filsafat
Islam Filsof dan Filsafatnya, (Jakarta: Raja Grafindo, 2007)hal. 113-114
[3] A. Mustofa, FilsafatIslam,
(Bandung:Pustaka Setia, 2004) hal. 115
[4]Ali
Al-Jumbulati, Dirasat al-Muqaranat fi at-Tarbiyah al-Islamiyah,
terjemahan HM. Arifin M.Ed., (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), hal. 34
[5]Philip
K. Hitti, History of the Arabs, (London: Macmillan, 1974), hal. 365
[6]Mehdi
Nakosteen, Konstribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat, Terjemahan
Joko S. Kahhar, (Surabaya: Risalah Gusti, 1996), hal. 213
[7] Sudarsono, FilsafatIslam,
(Jakarta: Rineka Cipta: 2004), hal.54
[9]Majid
Fakhry, A History of Islamic Philosophy, (New York: Columbia University
Press, 1983), hal. 105
[10] Sirajuddin Zar, Filsafat
Islam..., hal. 117
[12]Majid
Fakhry, A History..., hal. 105
[13]Harun
Nasution, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang,
1983), hal. 23
[14]M.
Saeed Sheikh, Studies in Muslim Philosophy, (Delhi: Adam Publisher &
Distributors, 1994), hal. 70
[15] Sirajuddin Zar, Filsafat
Islam..., hal. 119
[16]Majid
Fakhry, A History..., hal. 103
[17] Sirajuddin Zar, Filsafat
Islam..., hal. 120
[1]Abdurrahman Badawi, Muhammad Ibn Zakariya
ar-Razi, dalam M.M. Sharif (ed), A History of Muslim Philosophy, (Otto
Harrassowitz: Wisbaden, 1963),hal. 436
[2] Sirajuddin Zar, Filsafat
Islam Filsof dan Filsafatnya, (Jakarta: Raja Grafindo, 2007)hal. 113-114
[3] A. Mustofa, FilsafatIslam,
(Bandung:Pustaka Setia, 2004) hal. 115
[4]Ali
Al-Jumbulati, Dirasat al-Muqaranat fi at-Tarbiyah al-Islamiyah,
terjemahan HM. Arifin M.Ed., (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), hal. 34
[5]Philip
K. Hitti, History of the Arabs, (London: Macmillan, 1974), hal. 365
[6]Mehdi
Nakosteen, Konstribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat, Terjemahan
Joko S. Kahhar, (Surabaya: Risalah Gusti, 1996), hal. 213
[7] Sudarsono, FilsafatIslam,
(Jakarta: Rineka Cipta: 2004), hal.54
[9]Majid
Fakhry, A History of Islamic Philosophy, (New York: Columbia University
Press, 1983), hal. 105
[10] Sirajuddin Zar, Filsafat
Islam..., hal. 117
[12]Majid
Fakhry, A History..., hal. 105
[13]Harun
Nasution, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang,
1983), hal. 23
[14]M.
Saeed Sheikh, Studies in Muslim Philosophy, (Delhi: Adam Publisher &
Distributors, 1994), hal. 70
[15] Sirajuddin Zar, Filsafat
Islam..., hal. 119
[16]Majid
Fakhry, A History..., hal. 103
[17] Sirajuddin Zar, Filsafat
Islam..., hal. 120