Kamis, 02 Juni 2016

MAKALAH “PEMIKIRAN PENDIDIKAN K.H HASYIM ASY’ARI”




BAB I
PENDAHULUAN
Pembentukan kepribadian yang berakhlak itu bahkan seharusnya dilakukan sepanjang hayat manusia, lebih-lebih di saat seseorang sedang menempuh jenjang pendidikan. Kebutuhan akhlak dalam proses pendidikan merupakan upaya yang sangat penting dan tidak bisa ditawar lagi.[1]       
Hasyim Asy’ari menyarankan sesuai yang dikutip oleh Muhammad Rifai tujuan pendidikan pada setiap manusia adalah:
1.      Menjadi insan purna yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
2.      Insan purna yang bertujuan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.[2]
Berdasarkan pada tujuan di atas konsep pendidikan K. H. Hasyim Asy’ari  pada intinya adalah beribadah kepada Allah. Hal itu karena dalam kitab Adab al-Alim wa al-Muta’alim K. H. Hasyim Asy’ari menyebutkan nilai etis moral harus menjadi desain besar orang hidup di dunia. Melalui kitab tersebut misalnya, Hasyim Asy’ari menjelaskan seorang pencari ilmu mengejawantahkan ilmunya dalam kehidupan kesehariannya dengan perilaku hidup tawakkal, wara’, beramal dengan mengharap rida Allah semata, bersyukur dan sebagainya.
Pada akhirnya, jika nilai-nilai itu sudah menyatu dalam jiwa peserta didik, maka sikap optimis, serta mampu memaksimalkan seluruh potensi yang ada secara positif, kreatif, dinamis dan produktif niscaya dapat terwujud. Sehingga dapat dikatakan inti dari pemikiran pendidikan beliau adalah bagaimana menciptakan ruh manusia yang produktif dan dinamis pada jalan yang benar.
Etika pendidikan Islam merupakan salah satu aspek soft ware (perangkat lunak) dalam pendidikan Islam. Keberadaannya selalu dibutuhkan karena mempunyai peran yang signifikan dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan Islam. Pendidikan Islam merupakan proses pemahaman nilai-nilai dan bukan sekedar pemindahan ilmu pengetahuan dari pendidik kepada peserta didik belaka. Sistem nilai yang melekat pada pendidikan Islam adalah nilai-nilai yang dijiwai oleh dasar ajaran Islam yaitu al-Qur`an dan al-Sunnah. Nilai-nilai Qur`ani dengan segala penjelasan dan tafsirannya baik berupa al-Sunnah maupun ijtihad manusia itulah yang disebut moralitas Islam. Dalam pendidikan Islam nilai yang demikian disebut sebagai moralitas pendidikan Islam atau akhlak pendidikan Islam.
Sebagaimana K.H.Hasyim Asy’ari yang dikutip oleh menyebutkan bahwasanya Pendidikan itu penting sebagai sarana mencapai kemanusiaannya, sehingga menyadari siapa sesungguhnya penciptanya, untuk apa diciptakan, melakukan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, untuk berbuat baik di dunia dengan menegakkan keadilan, sehingga layak disebut makhluk yang mulia dibanding makhluk-makhluk lain yang diciptakan Tuhan.[3]
Dari pernyataan di atas, jelaslah bahwa K. H. Hasyim Asy’ari menghendaki keluhuran rohani, keutamaan jiwa, kemuliaan akhlak dan kepribadian yang kuat, merupakan tujuan utama dari pendidikan  bagi kalangan manusia muslim, karena akhlak adalah aspek fundamental dalam kehidupan seseorang, masyarakat maupun suatu negara.



BAB II
PEMBAHASAN

A.  Biografi K. H. Hasyim Asy’ari
Kyiai Hasyim di lahirkan pada hari Selasa Kliwon tanggal 24 Dzulqa’dah 1287 H atau 14 Februari 1871 M. Kelahiran beliau berlangsung di kediaman kakeknya (kyai Usman). K.H.M Hasyim Asy’ari  mempunyai 11 saudara yaitu:[4] Nafiah,Ahmad Sholeh,Muhammad Hasyim,Rodliah, Hasan,Anis, Fathonah, Maimunah, Ma’shum,Nahrowi,Adnan.
Ketiga dari 11 bersaudara. Nama lengkap beliau Muhammad Hasyim Asy’ari bin Abdul Wahid bin Abdul Halim, yang mempunyai gelar pangeran Bona, bin Abdul Rohman yang di kenal dengan Jaka Tingkir Sultan Hadiwijaya, bin Abdullah bin Abdul Aziz bin Abdul Fatih bin Maulana Ishaq, dari Raden ‘Ain Al-Yaqin yang disebut dengan Sunan Giri. Jadi, dari nasabnya K.H. Hasyim Asy’ari merupakan campuran dua darah, darah biru, kalangan ningrat, priyayi, kraton, satunya darah putih, kalangan tokoh agama, kiai, santri.
Semasa belajarnya, KH. Hasyim Asy’ari mendapatkan pendidikan dari ayahnya sendiri, Abd al-Wahid, terutama pendidikan di bidang Al-qur’an dan penguasaan beberapa literature keagamaan.Setelah itu ia pergi untuk menuntut ilmu ke berbagai pondok pesantren, terutama di Jawa, yang meliputi Shona, Siwalan Baduran, Langitan Tuban, Demangan Bangkalan, dan Sidoarjo. Setelah menimba ilmu di pondok pesantren Sidoarjo, ternyata KH.Hasyim Asy’ari merasa terkesan untuk terus melanjutkan studinya.Ia berguru kepada KH. Ya’kub yang merupakan kyai di pesantren tersebut.Kyai Ya’kub lambat laun merasakan kebaikan dan ketulusan KH. Hasyim Asy’ari sehingga kemudian ia menjodohkannya dengan putrinya, Khadijah. Tepat pada usia 21 tahun.
Setelah menikah, KH.Hasyim Asy’ari bersama istrinya Segera melakukan ibadah haji.Sekembalinya dari tanah suci, mertuanya menganjurkannya untuk menuntut ilmu di Makkah. Menuntut ilmu di kota mekkah sangat diidam-idamkan oleh kalangan santri saat itu, terutama dikalangan santri yang berasal dari Jawa, Madura,Sumatera dan kalimantan. Secara struktur sosial, seseorang yang mengikuti pendidikan di Makkah biasanya mendapat tempat lebih terhormat dibanding dengan orang yang belum pernah bermukim di Makkah, meski pengalaman kependidikannya masih dipertanyakan.
Dalam perjalanan pencarian ilmu pengetahuan di Makkah, KH.Hasyim Asy’ari bertemu dengan beberapa tokoh yang kemudian dijadikannya sebagai guru-gurunya dalam berbagai disiplin. Diantara guru-gurunya di Makkah yang terkenal adalah sebagai berikut.Pertama,Syaikh Mahfudh al-Tarmisi, seorang putera kyai Abdullah yang memimpin pesantren Tremas.Dikalangan kyai di Jawa, Syeikh mahfudh dikenal sebagai seorang ahli Hadist Bukhari.Kedua,Syaikh Ahmad Khatib dari Minangkabau. Syaikh Ahmad Khatib menjadi ulama bahkan sebagai guru besar yang cukup terkenal di Makkah, di samping menjadi salah seorang imam  di Masjid al-Haram untuk para penganut Mazhab Syafi’i.Ketiga, KH. Hasyim Asy’ari berguru kepada sejumlah tokoh di Makkah, yakni Syaikh al-Allamah Abdul Hamid al-Darutsani dan Syaikh Muhammad Syuaib al-Maghribi. Selain iyu, ia berguru kepada Syaikh Ahmad Amin al-Athar, Sayyid Sultan ibn Hasyim, Sayyid Ahmad ibn Hasan al-Attar, Syaikh Sayid Yamay, Sayyid Alawi ibn Ahmad as-Saqaf, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Abdullah al-Zawawy, Syaikh Shaleh Bafadhal dan Syaikh Sultan Hasyim Dagatsani.[5]
Karya beliau sebenarnya sudah di kumpulkan secara baik oleh salah seorang keturunan beliau, Muhammad Isham Hadziq.Semoga kelak ada yang mengkaji karya-karya tersebut secara serius.Amiin. Berikut daftar karya-karya beliau, baik itu berupa kitab, tulisan di surat kabar dan majalah, maupun pidato-pidato dan fatwa-fatwa beliau:
  1. Halqat Al-As’iah wa Halqat Al-Ajwibah” (1930), dalam swara Nahdlatul Ulama, no. 1, t.p.
  2. Al-Mawa’izh (1936), Surabaya: Hoofbesturr
  3. Adab al’Alim wa al-Muta’allim (1940). Muhammad Isham Hadziq (ed). Jombang: Maktabah Al-Turats al-Islami bi Ma’had Tebuireng.
  4. al-Durrar al-Muntathirah fi al-Masail al-Tisa’ ‘Asyarah (1940), t.p
  5. Pradjoerit Pembela Tanah Air (1943), dalam Soeara Masjoemi, 1 Desember
  6. Menginsyafkan para Oelama (1944) dalam  Soeara Masjoemi 15 Mei
  7. Pidato Ketoe Besar “Masjoemi”, KH. Hasyim Asj’ari (1944), dalam suara Masdjoemi, 1 Juli
  8. Pidato Koetoea Besar “Masjoemi”, KH. Hasyim Asj’ari di Bandung dalam pertemuan oelama seluruh Jawa Barat di Bandung (1944), dalam soeara Masjoemi, 15 Agustus.
  9. Ideologi Politik Islam, Amanat Kyiai Hasyim Asy’ari dalam Muktamar Partai Politik Islam Masyumi Februari (1946) dalam harian Islam Adj-Djihad, n.d. Yogyakarta.
  10. al-Mawa’izh Sjaich Hasyim Asj’ari (1959) terj. Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), dalam Pandji Masyarakat.
  11. Ihya’ Ama’il al-Fudhala’ fi Tarjamat al-Qur’an al-Asasi li al-Jam’iyyat an-Nahdhat al-Ulama (1969), terj. H.A. Abdul Chamid, Kudus: Menara Kudus.
  12. Pidato Pembukaan Muktamar NU ke-17 di  Madiun (1969) dalam Ihya’ ‘Amail al-Fudhala Tarjama al-Qur’an al-Asasi Jamiyyat an-Nahdlatul al-Ulama, terj. Abdul Chamid, Kudus: Menara Kudus.
  13. Al-Qanun al-Asasi li Jam’yyat an-Nahdhat al-Ulama (1971), Terj. KH> Abdul Chamid. Kudus: Menara Kudus
  14. Risalah fi Ta’aqqud al-Akhdh bi Mazhabib al-A’immah al-Araba’ah, lihat juga al-Tibyan fi Nahy’an al-Muqata’at al-Arham wa al Aqarib wa al-Akhwan (1984), Muhammd Isham Hadziq (ed.). Jombang Maktabah al-Turats al-Islami bi Ma’had, Tebuireng.
  15. Al-Tibyan fi Nahy’an Muqata’at al-Arham wa al-Aqarib wa al akwan (1994), Muhammad Isham Hadziq (ed.), Jombang: Maktabah al-Turats al-Islami bi Ma’had, Tebuireng.
  16. al-Tanbihat al-Wajibat li man Yashna’al Mawlid bi al-Munkarat (1995)Muhammad Isham Hadziq (ed.), Jombang: Maktabah al-Turats al-Islami bi Ma’had, Tebuireng.
  17. Ziyadat Ta’liqat ‘ala Manzhumat al-Syaikh ‘Abd Allah b. Yasin al-Fasuruwani (1995)Muhammad Isham Hadziq (ed.), Jombang: Maktabah al-Turats al-Islami bi Ma’had, Tebuireng.[6]

B.  Pemikiran KH. Hasyim Asyari tentang Etika Siswa
Ada beberapa etika yang harus dijalankan oleh seorang siswa untuk menempuh pendidikan sebagaimana yang dijelaskan oleh pemikiran KH Hasyim Asy’ari.
1. Untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat, ada sepuluh tuntunan etika yang perlu diperhatikan oleh peserta didik. Tuntunan itu adalah:
a.     membersihkan hati dari berbagai gangguan material keduniaan dan hal-hal yang merusak sistem kepercayaan;
b.    membersihkan niat, dengan cara meyakini bahwa menunut ilmu hanya didedikasikan kepada Allah swt semata;
c.    mempergunkan kesempatan belajar (waktu)dengan sebaiknya;
d.    merasa cukup dengan apa yang ada dan menggunakan segala sesuatu yang lebih muda sehingga tidak merasa sulit;
e.    pandai mengatur waktu;
f.     tidak berlebihan dalam makan dan minum.
g.    berusaha menjaga diri (wara’).
h.     menghindarkan makan dan minum yang menyebabkan kemalasan dan kebodohan.
i.      menyedikitkan waktu tidur selagi tidak merusak kesehatan.
j.      meninggalkan hal-hal yang kurang berfaedah.[7]


2. Etika seorang peserta didik terhadap Pendidik/gurumenurut KH. Hasyim Asy’ari paling tidak ada 12 etika yang perlu dilakukan, yakni:
a.    melakukan perenungan dan meminta petunjuk kepada Allah swt dalam memilih guru.
b.    belajar sungguh-sungguh dengan menemui pendidik secara langsung, tidak hanya melalui tulisan-tulisannya semata.
c.    mengikuti guru, terutama dalam kecerundungan pemikiran.
d.   memuliakan guru.
e.    memperhatikan hal-hal yang menjadi hak pendidik.
f.     bersabar terhadap kekerasan pendidik.
g.    berkunjung kepada guru pada tempatnya atau meminta izin terlebih dahulu.
h.    menempati posisi duduk dengan rapih dan sopan bila berhadapan dengannya.
i.      berbicara dengan halus dan lemah lembut.
j.      menghafal dan memperhatikan fatwa hukum, nasihat, kisah, dari para guru.
k.    jangan sekali-kali menyela ketika guru belum selesai menjelaskan.
l.      menggunakan anggota badan yang kanan bila menyerahkan sesuatu kepada pendidik.[8]
3.    Etika Peserta didik tehadap Pelajaranhendaknya memperhatikan etika berikut;
a.    mendahulukan ilmu yang bersifat Fardhu ain dari pada ilmu-ilmu yang lain.
b.    harus mempelajari ilmu pendukung ilmufardhu ’ain.
c.    hati-hati dalam menanggapi ikhtilaf para ulama’.
d.   mengulang dan menghafal bacaan-bacaan (menyetorkan) hasil bejalar kepada orang yang dipercayainya.
e.    senantiasa menyimak dan menganalisa ilmu-ilmu pengetahuan, terutama ilmu hadist dan ilmu ushul Fiqh.
f.     merencanakan cita-cita yang tinggi.
g.    bergaul dengan guru dan teman, lebih-lebih kepada orang yang berilmu tinggi dan pintar.
h.    mengucapkan salam bila sampai di majlis ta’lim/sekolah/madrasah.
i.      bila menjumpai hal-hal yang belum dipahami maka hendaknya ditanyakan.
j.      bila kebetulan bersamaan dengan banyak teman dengan kepentingan yang sama atau hendak menanyakan persoalan yang sama maka sebakiknya jangan mendahului anrtrian kecuali ada izin.
k.    kemanapun kita pergi dan dimanapun kita berada jangan lupa membawa catatan.
l.      mempelajari pelajaran yang telah diajarkan dengan kontinyu/istiqomah dan,
m.  menanamkan rasa antusias dan semangat untuk belajar.[9]

C.    Pemikiran KH Hasyim Asy’ari tentang Etika Guru
1.      Etika Guru Secara Pribadi
Dalam hal ini terdapat 20 macam adab, yaitu:
a.       Selalu muroqobah (mengingat) Allah Swt. Baik dalam kesepian maupun keramaian[10]
b.      Selalu takut kepada Allah Swt., dalam gerak, diam, ucapan, dan pekerjaan-pekerjaannya. Sebab dia (guru) adalah orang yang sangat dipercaya atas apa yang telah dititipkannya kepadanya yaitu ilmu, hikmah, dan rasa takut pada Allah.
c.       Selalu bersikap tenang
d.      Selalu Wara’ (menjaga diri dari perkara haram)
e.       Selalu tawadhu’ (rendah diri)
f.       Selalu khusyu’ karena Allah
g.      Mengadukan segala permaslahan hanya kepada Allah SWT.
h.      Tidak memuliyakan dan mengagungkan orang-orang karena kakayaannya dengan berjalan atau berdiri atas kedatangannya kecuali demi kebaikan atau mengurangi kerusakan-kerusakan yang ada apalagi mengajar dengan cara mendatangi rumah murid sekalipun murid itu lebih tinggi pangkatnnya.[11]
i.        Berakhlak Zuhud (menjauh) dn meminimalkan harta dunia sebatas kebutuhan sehari-hari untuknya dan keluarganya serya orang-orang yang ada di bawah tanggung jawabnya dengan disertai rasa qona’ah apa adanya.
j.        Menjauhi pekerjaan-pekerjaan hina menurut tabiat seperti tuang sihir, tukang sama’ (mensucikan kulit bangkai dengan cara merendam), dan lain-lain.
k.      Menjauhi tempat-tempat maksiat, intinya tidak dibenarkan melakukan hal-hal yang dapat merusak citra dan harga diri dan hal-hal yang secara lahiriyah tidak di benarkan sekalipun batiniyah tidak apa-apa. Sebab itu akan menimbulka pengaruh dalam bathin dan sangkaan-sangkaan negatif bagi masyarakat sekitar bahkan akan mempengaruhi masyarakat untuk berbuat maksiat.
l.        Selalu berusaha menampakkan syiar-syiar dan hukum-hukum agama seperti shalat jama’ah di masjid-masjid mengucapkan salam dan amar ma’ruf nahi munkar di sertai dengan rasa sabar, mengatakan yang haq di depan para pembesar, menyerahkan diri pada Allah dan tahan menghadapi hinaan dan fitnah dengan mengingat Allah.[12]
m.    Antusias dalam menyiarkan sunnah dan agama serta perkara-perkara yang maslahah bagi umat dengan cara-cara yang bagus dan beijaksana, baik menurut syara’ maupun tradisi.
n.      Selalu menjaga dan melaksanakan kesunahan-kesunahan syari’at, baik ucapan maupun perbuatan, seperti halnya rajin membaca Al-Quran, dzikir, kepada Allah baik dengan lisan maupun hati. Begitu juga do’a-do’a dan dzikir-dzikir yangtelah diajarkan oleh Rasulullah diwaktu siang maupun malam.
o.      Bergaul dengan masyarakat dengan akhlak-akhlak yang muliam, seperti halnya wajah selalu berseri, mengucapkan salam, tidak mudah marah, mencegah dan membela mayarakat dari hal-hal yang tidak diinginkan, mengutamakan orang lain daripada dirinya, mengutamakan dan tidak minta diutamakan, memberi ketenangan dan kedamaian dan berjalan sendiri dalam memenuhi kebutuhannya, mencurahkan derajat dan pangkatnta untuk menolong dan lain-lain.[13]
p.      Mensucikan lahir dan batinnya dari akhlak-akhlak tercela kemudian diisi dengan akhlak-akhlak yang mulia.
q.      Selalu bersemangat dan bernafsu untuk menambah ilmu dan meningkatkan amal dengan sungguh-sungguh dan waspada malakukan ibadah secara rutin, mendalami sebelum mengajar.
r.        Bila belum mengerti tidak segan-segan dan tidak malu bertanya pada orang yang lebih rendah derajatnya, nasabnya atau umurnya. Tapi selalu semangat dalam mencari ilmu di setiap kesempatan.
s.       Rajin membuat karangan, rangkuman dan uraian kalau memang mampu untuk itu. Sebab dengan mendalami, menelaah dan mengulang kembali akanmendapatkan ilmu secara mendalam dan mendetail, seperti yang telah dikatakan oleh Khotib Al-Baghdadi bahwasannya mngulang kembali pelajaran itu dapat mempermudah hafal, membersihkan hati, mencerdaskan otak, memperluas kefahaman, mengahasilkan pemikiran yang berlian, mendapatkan pahala yang besar dan tidak mudah lupa.[14]
2.      Etika Guru Terhadap Pelajaran
Ketika guru akan berangkat mengajar, hendaklah bersuci dulu dari hadats dan najis. Badan dan pakaian haruslah bersih dan rapi. Memakai harum-haruman dan pakaian yang baik dan sopan santun sesuai dengan keadaan lingkungan masyarakat. Dalam melakukan hal-hal diatas, diniati untuk mengagungkan ilmu, menghormati syari’at agama. Dan dalam mengajarnya harus di niati mendekatkan diri pada allah, menyebarkan ilmu yang mana ilmu itu adalah sesuatu yang sangat mulya dan menghidupkan atau melesatarikan agama Islam.[15]



D.  ANALISIS
Pendidikan Islam yang ditawarkan oleh K. H. Hasyim Asy`ari mempunyai aspek nilai yang universal yang akan senantiasa benar dan relevan untuk dikaji, dikembangkan dan diterapkan untuk masa lalu, masa kini dan masa yang akan dating yang termaktub dalam kitab yang berjudul Adab al-`Alim wa al-Muta`allim. Misalnya beliau menulis pesan-pesan yang dinukil dari ayat al-Qur`an dan al-Sunnah. Firman Allah dalam Q.S. Al-Mujadalah ayat 11 adalah:
يرفع الله الذينأمنوا منكم والذين اوتوا العلم درجات.....
Artinya: ”Maka Allah akan mengangkat orang-orang beriman dari kamu dan orang-orang yang mempunyai ilmu dengan beberapa derajat...[16].

اى يرفع العلماء منكم درجات بما جمعوامن العلم والعمل.
Yaitu Allah akan mengangkat derajat ulama dari kamu sekalian dengan beberapa derajat dari hasil menguasai ilmu dan mengamalkannya."[17]
   Etika pendidikan Islam yang ditawarkan oleh K. H. Hasyim Asy`ari juga ada yang mempunyai aspek nilai yang bersifat spesifik dan temporer yang hanya relevan untuk masa tertentu dan boleh jadi sekarang sudah out of date untuk situasi yang relatif berbeda dengan masa lalu.
Sebagaimana K. H. Hasyim Asy’ari menuliskan:
ان يتصبّر على جفوة تصدر من الشيخ او سوء خلقه....
Artinya: "Hendaknya penuntut ilmu bersabar dengan sifat keras seorang guru atau bersabar dengan sifat jeleknyaa…..."[18]
K. H. Hasyim Asy`ari juga banyak memberikan pesan-pesan moral yang sangat filosofis dalam etika pendidikan Islam sehingga membutuhkan penjelasan dan tafsiran yang lebih rasional dan membumi.Bahkan banyak pesan-pesan beliau yang sangat singkat namun berimplikasi sangat dalam dan luas. Misalnya beliau menukil pendapat Imam Syafi`i :
ان لم يكن الفقهاء العاملونبعلمهم اولياء الله فليس لله وليّ

Artinya: "Jika para ulama yang beramal dengan ilmunya tidak bisa disebut sebagai wali Allah, maka tidak akan ada lagi wali bagi Allah."[19]
K. H. Hasyim Asy`ari juga menguraikan bahwa seorang pendidik tidak boleh membangga-banggakan murid-murid karena berasal dari anak penguasa atau anak yang tinggi status sosialnya.Apalagi bersikap opportunis untuk keperluan pendidikannya atau bekerja untuk kepentingannya.Sikap dan tindakan demikian dianggap sebagai kehinaan dan merendahkan derajat ilmu dan para pemiliknya.[20]
Pengembangan dalam arti di atas tentu tidak bisa disebut sebagai tindakan yang beretika. Namun apabila hubungan antara pendidik dengan orangtua atau pihak manapun dalam kepentingan memperkuat proses pendidikan maka hubungan itu adalah bagian dari tugas-tugas kependidikan. Bahkan dewasa ini hubungan kemitraan antara guru, orang tua dan masyarakat menjadi keniscayaan. Pendidikan Islam justru harus mengintegrasikan potensi-potensi pendidikan formal, informal dan non-formal, setidaknya dalam sistem kerja fungsional yang menunjang pencapaian tujuan pendidikan. Paradigma ulama su` juga bukan berarti bahwa ulama lepas sama seklai berhubunngan dengan pejabat atau orang kaya.
Pendidik hendaknya tidak boleh menampakkan penghargaan yang berbeda-beda dalam kasih sayang (pilih kasih) terhadap murid-murid yang sama dalam umur, keutamaan, kemampuan dan agama, tetapi jika benar ada keunggulan di antara mereka dalam kesungguhan, kemampuan atau akhlak, maka guru boleh memberikan penghargaan atau perhatian yang lebih. Dalam uraian ini, prinsip-prinsip persamaan (musawah/equality) tetap diutamakan. Namun demikian, berkenaan dengan nilai persamaan itu, tidak berarti meniadakan penghargaan bagi yang berprestasi dan memberi hukuman kepada yang melanggar. 
Pendidik merupakan bapak rohani dan (spiritual father) bagi peserta didik, yang memberikan santapan jiwa dengan ilmu, pembinaan akhlak mulia, dan meluruskan perilakunya yang buruk. Oleh karena itu pendidik mempunyai kedudukan tinggi dalam Islam. 
Sebagaimana ang hadis nabi yang diceritakan oleh ‘Amr Rasululloh SAW melewati majlis di dalam masjidnya, lalu beliau bersabda: “keduanya (majlis) berada dalam kebaikan, dan salah satu lainnya lebih utama, adapun (satu kelompok) mereka berdoa kepada Alloh dan mengharapkan ridoNya, jika Ia kehendaki maka akan Ia kabulka, dan jika Ia kehendaki maka akan Ia tahan (tidak dikabulkan). Adapun mereka (satu kelompok lainnya) mereka memperdalam fiqih dan Ilmu (lain), lalu mereka mengajarkan kepada mereka yang belum mengetahui, mereka inilah yang lebih utama, dan aku diutus menjadi seorang pengajar”. Perawi berkata: kemudian beliau duduk bersama mereka (yang sedang mengajar).[21]
Selanjutnya dalam kitab Adab al-`Alim wa al-Muta`allim menyatakan: “sesungguhnya mengajarkan ilmu adalah perkara yang paling penting menurut agama dan derajat orang mukmin yang paling tinggi....”[22]
Dengan demikian mengajar dan mendidik adalah profesi yang sangat mulia, karena secara naluri orang yang berilmu itu dimuliakan dan dihormati oleh orang. Dan ilmu pengetahuan itu sendiri adalah mulia, sehingga profesinya sebagai pengajar adalah memberikan kemuliaan. Tugas pendidik yang utama adalah menyempurnakan, membersihkan, menyucikan, serta membawakan hati manusia untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT. Hal tersebut karena tujuan pendidikan Islam yang utama adalah upaya untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Jika pendidik belum mampu membiasakan diri dalam peribadatan pada peserta didiknya, maka ia mengalami kegagalan dan tugasnya, sekalipun peserta didiknya memiliki prestasi akademis yang luar biasa.Hal itu mengandung arti akan keterkaitan antara ilmu dan amal shaleh.
Dalam perkembangan berikutnya, paradigma pendidik tidak hanya bertugas sebagai pengajar, yang mendoktrin peserta didiknya untuk menguasai seperangkat pengetahuan dan skill tertentu. Pendidik hanya bertugas sebagai motivator dan fasilitator dalam proses belajar mengajar. Keaktifan sangat tergantung pada peserta didiknya sendiri, sekalipun keaktifan itu berakibat dari motivasi pemberian fasilitas dari pendidiknya. Seorang pendidik dituntut mampu memainkan peranan dan fungsinya dalam menjalankan tugas keguruannya, sehingga pendidik bisa menempatkan kepentingan sebagai individu, anggota masyarakat, warga negara, dan pendidik sendiri. Antara tugas keguruan dan tugas lainnya harus ditempatkan menurut proporsinya.
Di dalam tugas yang mulia itu seorang guru juga berhadapan dengan seperangkat komponen yang terkait dan mempunyai hubungan yang sangat penting dalam mendidik, untuk menuju pada satu titik optimal dari pengembangan segala potensi yang dimiliki anak didik. Dalam rangka menciptakan kondisi profesional bagi para pendidik, maka harus dilakukan beberapa hal yang berhubungan dengan keprofesionalannya. Dalam pemikirannya KH Hasyim Asy’ari tersebut terealisasikan didalam pendidikan-pendidikan atau lembaga dibawah Naungan NU.




BAB III
KESIMPULAN

1.    Nama lengkap K. H. Hasyim Asy’ari adalah Muhammad Hasyim Asy’ari ibn ‘Abd Al-Wahid. Ia lahir di Gedang, sebuah desa di daerah Jombang, Jawa Timur, pada hari selasa kliwon 24 Dzu Al-Qa’idah 1287 H,  bertepatan dengan tanggal 14 Februari 1871. K.H. Hasyim Asy’ari sekitar pukul 03.45 WIB dini hari pada tanggal 26 Juli 1947, 7 Ramadhan 1366 H. beliau berpulang ke Rahmatullah.
2.    Pendidikan Islam yang ditawarkan oleh K. H. Hasyim Asy`ari juga ada yang mempunyai aspek nilai yang bersifat spesifik dan temporer yang hanya relevan untuk masa tertentu. K. H. Hasyim Asy`ari juga banyak memberikan pesan-pesan moral yang sangat filosofis dalam etika pendidikan Islam sehingga membutuhkan penjelasan dan tafsiran yang lebih rasional dan membumi. Bahkan banyak pesan-pesan beliau yang sangat singkat namun berimplikasi sangat dalam dan luas.

DAFTAR RUJUKAN
.Abu, H Bakar Atjeh, SejarahHidupK.H Wahid Hasyim dan Karang Tersinar, Jakarta: Panitia Peringatan Buku K.H Wahid Hasyim, 1975.
Asy`ar, Hasyim, Adab al-`Alim wa al-Muta`allim, Maktabah al-Turats al-Islami, Jombang, cetakan II, 1415 H.
, Penerjemah M. Tholuq Muqni, Menggapai Sukses dalam Belajar Mengaja, Terjemah KItab Abdul 'Alim Wal Muta'llim, Multazam Press, Jombang 2011.
Burhanuddin, Tamyiz, Akhlak pesantren Pandangan K.H. Hasyim Asy`ari, Yogyakarta: Ittaqa Press, Cetakan IV. 2001.
Depag RI, al-Qur`an dan Terjemahnya, Semarang, Toha Putra, cetakan IV,1989.
Rifa’i, Muhammad, K. H. HasyimAsy’ariBiografiSingkat, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2009
, K. H. Hasyim Asy’ari, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media Group, cetakan III, 2010.
Suryani, Hadis Tarbawi Analisis Paedagogis Hadis-hadis Nabi, Yogyakarta: Teras, 2012.
Suwendi, Konsep Pendidikan KH. Hasyim Asy’ari, Jakarta: LekDis, 2005

[1]Tamyiz Burhanuddin, Akhlak pesantren Pandangan K.H. Hasyim Asy`ari, (Yogyakarta: Ittaqa Press, 2001), hal. 68
[2]Muhammad Rifai, K. H. Hasyim Asy’ari, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media Group, 2010), hal. 85-86
[3]Ibid.,hal. 85-86
[4]Muhammad Rifa’i, K. H. Hasyim Asy’ari  Biografi Singkat, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2009), hal. 3
[5]H.Abu Bakar Atjeh, SejarahHidupK.H Wahid Hasyim dan Karang Tersinar, (Jakarta: Panitia Peringatan Buku K.H Wahid Hasyim, 1975), hal. 35
[6]Muhammad Rifa’i,  K. H. Hasyim Asy’ari…,hal. 44-45
[7]Suwendi, Konsep Pendidikan KH. Hasyim Asy’ari, (Jakarta: LekDis, 2005), hal. 47
[8]Ibid.., hal. 48
[9]Ibid.., hal 49
[10]Hasyim Asy'ari, Penerjemah M. Tholuq Muqni, Menggapai Sukses dalam Belajar Mengaja, Terjemah KItab Abdul 'Alim Wal Muta'llim, (Multazam Press, Jombang 2011), hal. 59
[11]Ibid..,. hal. 59-60
[12]Ibid.,hal. 63-65
[13]Ibid., hal. 67-68
[14]Ibid., hal. 68-77
[15]Ibid., hal. 78
[16]Depag RI, al-Qur`an dan Terjemahnya, (Semarang, Toha Putra, 1989), hal. 910
[17]Hasyim Asy`ari, Adab al-`Alim wa al-Muta`allim, (Maktabah al-Turats al-Islami, Jombang, 1415 H), hal.12
[18]Ibid., hal. 31
[19]Ibid., hal. 21
[20]Hasyim Asy`ari, Adab al-`Alim wa al-Muta`allim…, hal.56
[21]Suryani, Hadis Tarbawi Analisis Paedagogis Hadis-hadis Nabi, (Yogyakarta: Teras, 2012) , hal. 46-47
[22]KH. Hasyim Asy`ari, Adab al-`Alim wa al-Muta`allim…,hal. 81.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar