BAB I
PENDAHULUAN
Pembentukan kepribadian yang
berakhlak itu bahkan seharusnya dilakukan sepanjang hayat manusia, lebih-lebih
di saat seseorang sedang menempuh jenjang pendidikan. Kebutuhan akhlak dalam
proses pendidikan merupakan upaya yang sangat penting dan tidak bisa ditawar
lagi.[1]
Hasyim Asy’ari menyarankan
sesuai yang dikutip oleh Muhammad Rifai tujuan pendidikan pada setiap manusia
adalah:
1. Menjadi insan purna yang bertujuan
mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Berdasarkan pada tujuan di
atas konsep pendidikan K. H. Hasyim Asy’ari
pada intinya adalah beribadah kepada Allah. Hal itu karena dalam kitab Adab
al-Alim wa al-Muta’alim K. H. Hasyim Asy’ari menyebutkan nilai etis moral
harus menjadi desain besar orang hidup di dunia. Melalui kitab tersebut
misalnya, Hasyim Asy’ari menjelaskan seorang pencari ilmu mengejawantahkan
ilmunya dalam kehidupan kesehariannya dengan perilaku hidup tawakkal, wara’,
beramal dengan mengharap rida Allah semata, bersyukur dan sebagainya.
Pada akhirnya, jika
nilai-nilai itu sudah menyatu dalam jiwa peserta didik, maka sikap optimis,
serta mampu memaksimalkan seluruh potensi yang ada secara positif, kreatif,
dinamis dan produktif niscaya dapat terwujud. Sehingga dapat dikatakan inti
dari pemikiran pendidikan beliau adalah bagaimana menciptakan ruh manusia yang
produktif dan dinamis pada jalan yang benar.
Etika pendidikan
Islam merupakan salah satu aspek soft ware (perangkat lunak) dalam
pendidikan Islam. Keberadaannya selalu dibutuhkan karena mempunyai peran yang
signifikan dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan Islam. Pendidikan Islam
merupakan proses pemahaman nilai-nilai dan bukan sekedar pemindahan ilmu pengetahuan
dari pendidik kepada peserta didik belaka. Sistem nilai yang melekat pada
pendidikan Islam adalah nilai-nilai yang dijiwai oleh dasar ajaran Islam yaitu
al-Qur`an dan al-Sunnah. Nilai-nilai Qur`ani dengan segala penjelasan dan
tafsirannya baik berupa al-Sunnah maupun ijtihad manusia itulah yang disebut
moralitas Islam. Dalam pendidikan Islam nilai yang demikian disebut sebagai
moralitas pendidikan Islam atau akhlak pendidikan Islam.
Sebagaimana K.H.Hasyim Asy’ari
yang dikutip oleh menyebutkan bahwasanya Pendidikan itu penting
sebagai sarana mencapai kemanusiaannya, sehingga menyadari siapa sesungguhnya
penciptanya, untuk apa diciptakan, melakukan segala perintah-Nya dan menjauhi
segala larangan-Nya, untuk berbuat baik di dunia dengan menegakkan keadilan,
sehingga layak disebut makhluk yang mulia dibanding makhluk-makhluk lain yang
diciptakan Tuhan.[3]
Dari pernyataan
di atas, jelaslah bahwa K. H. Hasyim Asy’ari menghendaki keluhuran rohani,
keutamaan jiwa, kemuliaan akhlak dan kepribadian yang kuat, merupakan tujuan
utama dari pendidikan bagi kalangan
manusia muslim, karena akhlak adalah aspek fundamental dalam kehidupan
seseorang, masyarakat maupun suatu negara.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Biografi K. H. Hasyim Asy’ari
Kyiai Hasyim di lahirkan pada hari
Selasa Kliwon tanggal 24 Dzulqa’dah 1287 H atau 14 Februari 1871 M. Kelahiran
beliau berlangsung di kediaman kakeknya (kyai Usman). K.H.M Hasyim Asy’ari mempunyai 11 saudara yaitu:[4]
Nafiah,Ahmad Sholeh,Muhammad Hasyim,Rodliah, Hasan,Anis, Fathonah, Maimunah,
Ma’shum,Nahrowi,Adnan.
Ketiga dari 11 bersaudara. Nama
lengkap beliau Muhammad Hasyim Asy’ari bin Abdul Wahid bin Abdul Halim, yang
mempunyai gelar pangeran Bona, bin Abdul Rohman yang di kenal dengan Jaka
Tingkir Sultan Hadiwijaya, bin Abdullah bin Abdul Aziz bin Abdul Fatih bin
Maulana Ishaq, dari Raden ‘Ain Al-Yaqin yang disebut dengan Sunan Giri. Jadi,
dari nasabnya K.H. Hasyim Asy’ari merupakan campuran dua darah, darah biru,
kalangan ningrat, priyayi, kraton, satunya darah putih, kalangan tokoh agama,
kiai, santri.
Semasa
belajarnya, KH. Hasyim Asy’ari
mendapatkan pendidikan dari ayahnya sendiri, Abd al-Wahid, terutama pendidikan
di bidang Al-qur’an dan penguasaan beberapa literature keagamaan.Setelah itu ia
pergi untuk menuntut ilmu ke berbagai pondok pesantren, terutama di Jawa, yang
meliputi Shona, Siwalan Baduran, Langitan Tuban, Demangan Bangkalan, dan
Sidoarjo. Setelah menimba ilmu di pondok pesantren Sidoarjo, ternyata KH.Hasyim
Asy’ari merasa terkesan untuk terus melanjutkan studinya.Ia berguru kepada KH.
Ya’kub yang merupakan kyai di pesantren tersebut.Kyai Ya’kub lambat laun
merasakan kebaikan dan ketulusan KH. Hasyim Asy’ari sehingga kemudian ia
menjodohkannya dengan putrinya, Khadijah. Tepat pada usia 21 tahun.
Setelah
menikah, KH.Hasyim Asy’ari bersama istrinya Segera melakukan ibadah
haji.Sekembalinya dari tanah suci, mertuanya menganjurkannya untuk menuntut
ilmu di Makkah. Menuntut ilmu di kota mekkah sangat diidam-idamkan oleh
kalangan santri saat itu, terutama dikalangan santri yang berasal dari Jawa,
Madura,Sumatera dan kalimantan. Secara struktur sosial, seseorang yang
mengikuti pendidikan di Makkah biasanya mendapat tempat lebih terhormat
dibanding dengan orang yang belum pernah bermukim di Makkah, meski pengalaman
kependidikannya masih dipertanyakan.
Dalam perjalanan pencarian ilmu pengetahuan di Makkah,
KH.Hasyim Asy’ari bertemu dengan beberapa tokoh yang kemudian dijadikannya
sebagai guru-gurunya dalam berbagai disiplin. Diantara guru-gurunya di Makkah
yang terkenal adalah sebagai berikut.Pertama,Syaikh Mahfudh al-Tarmisi, seorang
putera kyai Abdullah yang memimpin pesantren Tremas.Dikalangan kyai di Jawa,
Syeikh mahfudh dikenal sebagai seorang ahli Hadist Bukhari.Kedua,Syaikh Ahmad
Khatib dari Minangkabau. Syaikh Ahmad Khatib menjadi ulama bahkan sebagai guru
besar yang cukup terkenal di Makkah, di samping menjadi salah seorang imam di Masjid al-Haram untuk para penganut Mazhab
Syafi’i.Ketiga, KH. Hasyim Asy’ari berguru kepada sejumlah tokoh di Makkah,
yakni Syaikh al-Allamah Abdul Hamid al-Darutsani dan Syaikh Muhammad Syuaib
al-Maghribi. Selain iyu, ia berguru kepada Syaikh Ahmad Amin al-Athar, Sayyid
Sultan ibn Hasyim, Sayyid Ahmad ibn Hasan al-Attar, Syaikh Sayid Yamay, Sayyid
Alawi ibn Ahmad as-Saqaf, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Abdullah al-Zawawy,
Syaikh Shaleh Bafadhal dan Syaikh Sultan Hasyim Dagatsani.[5]
Karya beliau sebenarnya sudah di
kumpulkan secara baik oleh salah seorang keturunan beliau, Muhammad Isham
Hadziq.Semoga kelak ada yang mengkaji karya-karya tersebut secara serius.Amiin.
Berikut daftar karya-karya beliau, baik itu berupa kitab, tulisan di surat
kabar dan majalah, maupun pidato-pidato dan fatwa-fatwa beliau:
- Halqat Al-As’iah wa Halqat Al-Ajwibah” (1930), dalam swara Nahdlatul Ulama, no. 1, t.p.
- Al-Mawa’izh (1936), Surabaya: Hoofbesturr
- Adab al’Alim wa al-Muta’allim (1940). Muhammad Isham Hadziq (ed). Jombang: Maktabah Al-Turats al-Islami bi Ma’had Tebuireng.
- al-Durrar al-Muntathirah fi al-Masail al-Tisa’ ‘Asyarah (1940), t.p
- Pradjoerit Pembela Tanah Air (1943), dalam Soeara Masjoemi, 1 Desember
- Menginsyafkan para Oelama (1944) dalam Soeara Masjoemi 15 Mei
- Pidato Ketoe Besar “Masjoemi”, KH. Hasyim Asj’ari (1944), dalam suara Masdjoemi, 1 Juli
- Pidato Koetoea Besar “Masjoemi”, KH. Hasyim Asj’ari di Bandung dalam pertemuan oelama seluruh Jawa Barat di Bandung (1944), dalam soeara Masjoemi, 15 Agustus.
- Ideologi Politik Islam, Amanat Kyiai Hasyim Asy’ari dalam Muktamar Partai Politik Islam Masyumi Februari (1946) dalam harian Islam Adj-Djihad, n.d. Yogyakarta.
- al-Mawa’izh Sjaich Hasyim Asj’ari (1959) terj. Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), dalam Pandji Masyarakat.
- Ihya’ Ama’il al-Fudhala’ fi Tarjamat al-Qur’an al-Asasi li al-Jam’iyyat an-Nahdhat al-Ulama (1969), terj. H.A. Abdul Chamid, Kudus: Menara Kudus.
- Pidato Pembukaan Muktamar NU ke-17 di Madiun (1969) dalam Ihya’ ‘Amail al-Fudhala Tarjama al-Qur’an al-Asasi Jamiyyat an-Nahdlatul al-Ulama, terj. Abdul Chamid, Kudus: Menara Kudus.
- Al-Qanun al-Asasi li Jam’yyat an-Nahdhat al-Ulama (1971), Terj. KH> Abdul Chamid. Kudus: Menara Kudus
- Risalah fi Ta’aqqud al-Akhdh bi Mazhabib al-A’immah al-Araba’ah, lihat juga al-Tibyan fi Nahy’an al-Muqata’at al-Arham wa al Aqarib wa al-Akhwan (1984), Muhammd Isham Hadziq (ed.). Jombang Maktabah al-Turats al-Islami bi Ma’had, Tebuireng.
- Al-Tibyan fi Nahy’an Muqata’at al-Arham wa al-Aqarib wa al akwan (1994), Muhammad Isham Hadziq (ed.), Jombang: Maktabah al-Turats al-Islami bi Ma’had, Tebuireng.
- al-Tanbihat al-Wajibat li man Yashna’al Mawlid bi al-Munkarat (1995)Muhammad Isham Hadziq (ed.), Jombang: Maktabah al-Turats al-Islami bi Ma’had, Tebuireng.
- Ziyadat Ta’liqat ‘ala Manzhumat al-Syaikh ‘Abd Allah b. Yasin al-Fasuruwani (1995)Muhammad Isham Hadziq (ed.), Jombang: Maktabah al-Turats al-Islami bi Ma’had, Tebuireng.[6]
B. Pemikiran KH. Hasyim Asyari tentang Etika
Siswa
Ada beberapa etika yang harus dijalankan oleh seorang
siswa untuk menempuh pendidikan sebagaimana yang dijelaskan oleh pemikiran KH
Hasyim Asy’ari.
1. Untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat, ada sepuluh
tuntunan etika yang perlu diperhatikan oleh peserta didik. Tuntunan itu adalah:
a. membersihkan hati dari berbagai gangguan
material keduniaan dan hal-hal yang merusak sistem kepercayaan;
b. membersihkan
niat, dengan cara meyakini bahwa menunut ilmu hanya didedikasikan kepada Allah
swt semata;
c. mempergunkan
kesempatan belajar (waktu)dengan sebaiknya;
d. merasa cukup dengan apa yang ada dan
menggunakan segala sesuatu yang lebih muda sehingga tidak merasa sulit;
e. pandai
mengatur waktu;
f. tidak
berlebihan dalam makan dan minum.
g. berusaha
menjaga diri (wara’).
h. menghindarkan makan dan minum yang menyebabkan
kemalasan dan kebodohan.
i.
menyedikitkan waktu tidur selagi tidak merusak kesehatan.
j.
meninggalkan hal-hal yang kurang berfaedah.[7]
2. Etika seorang peserta didik terhadap Pendidik/gurumenurut
KH. Hasyim Asy’ari paling tidak ada 12 etika yang perlu dilakukan, yakni:
a. melakukan
perenungan dan meminta petunjuk kepada Allah swt dalam memilih guru.
b. belajar
sungguh-sungguh dengan menemui pendidik secara langsung, tidak hanya melalui
tulisan-tulisannya semata.
c. mengikuti
guru, terutama dalam kecerundungan pemikiran.
d. memuliakan
guru.
e. memperhatikan
hal-hal yang menjadi hak pendidik.
f. bersabar
terhadap kekerasan pendidik.
g. berkunjung
kepada guru pada tempatnya atau meminta izin terlebih dahulu.
h. menempati
posisi duduk dengan rapih dan sopan bila berhadapan dengannya.
i.
berbicara dengan halus dan lemah lembut.
j.
menghafal dan memperhatikan fatwa hukum, nasihat, kisah,
dari para guru.
k. jangan
sekali-kali menyela ketika guru belum selesai menjelaskan.
l.
menggunakan anggota badan yang kanan bila menyerahkan
sesuatu kepada pendidik.[8]
3. Etika Peserta
didik tehadap Pelajaranhendaknya memperhatikan etika berikut;
a. mendahulukan
ilmu yang bersifat Fardhu ain dari pada ilmu-ilmu yang lain.
b. harus
mempelajari ilmu pendukung ilmufardhu ’ain.
c. hati-hati
dalam menanggapi ikhtilaf para ulama’.
d. mengulang dan
menghafal bacaan-bacaan (menyetorkan) hasil bejalar kepada orang yang
dipercayainya.
e. senantiasa
menyimak dan menganalisa ilmu-ilmu pengetahuan, terutama ilmu hadist dan ilmu
ushul Fiqh.
f. merencanakan
cita-cita yang tinggi.
g. bergaul dengan
guru dan teman, lebih-lebih kepada orang yang berilmu tinggi dan pintar.
h. mengucapkan
salam bila sampai di majlis ta’lim/sekolah/madrasah.
i.
bila menjumpai hal-hal yang belum dipahami maka hendaknya
ditanyakan.
j.
bila kebetulan bersamaan dengan banyak teman dengan
kepentingan yang sama atau hendak menanyakan persoalan yang sama maka
sebakiknya jangan mendahului anrtrian kecuali ada izin.
k. kemanapun kita
pergi dan dimanapun kita berada jangan lupa membawa catatan.
l.
mempelajari pelajaran yang telah diajarkan dengan
kontinyu/istiqomah dan,
m. menanamkan
rasa antusias dan semangat untuk belajar.[9]
C.
Pemikiran KH Hasyim Asy’ari tentang Etika Guru
1.
Etika Guru Secara Pribadi
Dalam hal ini terdapat 20 macam adab, yaitu:
a.
Selalu muroqobah (mengingat) Allah Swt. Baik
dalam kesepian maupun keramaian[10]
b.
Selalu takut kepada Allah Swt., dalam gerak, diam,
ucapan, dan pekerjaan-pekerjaannya. Sebab dia (guru) adalah orang yang sangat
dipercaya atas apa yang telah dititipkannya kepadanya yaitu ilmu, hikmah, dan
rasa takut pada Allah.
c.
Selalu bersikap tenang
d.
Selalu Wara’ (menjaga diri dari perkara haram)
e.
Selalu tawadhu’ (rendah diri)
f.
Selalu khusyu’ karena Allah
g.
Mengadukan segala permaslahan hanya kepada Allah SWT.
h.
Tidak memuliyakan dan mengagungkan orang-orang karena
kakayaannya dengan berjalan atau berdiri atas kedatangannya kecuali demi
kebaikan atau mengurangi kerusakan-kerusakan yang ada apalagi mengajar dengan
cara mendatangi rumah murid sekalipun murid itu lebih tinggi pangkatnnya.[11]
i.
Berakhlak Zuhud (menjauh) dn meminimalkan harta dunia
sebatas kebutuhan sehari-hari untuknya dan keluarganya serya orang-orang yang
ada di bawah tanggung jawabnya dengan disertai rasa qona’ah apa adanya.
j.
Menjauhi pekerjaan-pekerjaan hina menurut tabiat
seperti tuang sihir, tukang sama’ (mensucikan kulit bangkai dengan cara
merendam), dan lain-lain.
k.
Menjauhi tempat-tempat maksiat, intinya tidak
dibenarkan melakukan hal-hal yang dapat merusak citra dan harga diri dan
hal-hal yang secara lahiriyah tidak di benarkan sekalipun batiniyah tidak
apa-apa. Sebab itu akan menimbulka pengaruh dalam bathin dan sangkaan-sangkaan
negatif bagi masyarakat sekitar bahkan akan mempengaruhi masyarakat untuk
berbuat maksiat.
l.
Selalu berusaha menampakkan syiar-syiar dan
hukum-hukum agama seperti shalat jama’ah di masjid-masjid mengucapkan salam dan
amar ma’ruf nahi munkar di sertai dengan rasa sabar, mengatakan yang haq di
depan para pembesar, menyerahkan diri pada Allah dan tahan menghadapi hinaan
dan fitnah dengan mengingat Allah.[12]
m.
Antusias dalam menyiarkan sunnah dan agama serta
perkara-perkara yang maslahah bagi umat dengan cara-cara yang bagus dan
beijaksana, baik menurut syara’ maupun tradisi.
n.
Selalu menjaga dan melaksanakan kesunahan-kesunahan
syari’at, baik ucapan maupun perbuatan, seperti halnya rajin membaca Al-Quran,
dzikir, kepada Allah baik dengan lisan maupun hati. Begitu juga do’a-do’a dan
dzikir-dzikir yangtelah diajarkan oleh Rasulullah diwaktu siang maupun malam.
o.
Bergaul dengan masyarakat dengan akhlak-akhlak yang
muliam, seperti halnya wajah selalu berseri, mengucapkan salam, tidak mudah
marah, mencegah dan membela mayarakat dari hal-hal yang tidak diinginkan,
mengutamakan orang lain daripada dirinya, mengutamakan dan tidak minta
diutamakan, memberi ketenangan dan kedamaian dan berjalan sendiri dalam
memenuhi kebutuhannya, mencurahkan derajat dan pangkatnta untuk menolong dan
lain-lain.[13]
p.
Mensucikan lahir dan batinnya dari akhlak-akhlak
tercela kemudian diisi dengan akhlak-akhlak yang mulia.
q.
Selalu bersemangat dan bernafsu untuk menambah ilmu
dan meningkatkan amal dengan sungguh-sungguh dan waspada malakukan ibadah
secara rutin, mendalami sebelum mengajar.
r.
Bila belum mengerti tidak segan-segan dan tidak malu
bertanya pada orang yang lebih rendah derajatnya, nasabnya atau umurnya. Tapi
selalu semangat dalam mencari ilmu di setiap kesempatan.
s.
Rajin membuat karangan, rangkuman dan uraian kalau
memang mampu untuk itu. Sebab dengan mendalami, menelaah dan mengulang kembali
akanmendapatkan ilmu secara mendalam dan mendetail, seperti yang telah
dikatakan oleh Khotib Al-Baghdadi bahwasannya mngulang kembali pelajaran itu
dapat mempermudah hafal, membersihkan hati, mencerdaskan otak, memperluas
kefahaman, mengahasilkan pemikiran yang berlian, mendapatkan pahala yang besar
dan tidak mudah lupa.[14]
2.
Etika Guru Terhadap Pelajaran
Ketika guru akan berangkat mengajar, hendaklah bersuci
dulu dari hadats dan najis. Badan dan pakaian haruslah bersih dan rapi. Memakai
harum-haruman dan pakaian yang baik dan sopan santun sesuai dengan keadaan lingkungan
masyarakat. Dalam melakukan hal-hal diatas, diniati untuk mengagungkan ilmu,
menghormati syari’at agama. Dan dalam mengajarnya harus di niati mendekatkan
diri pada allah, menyebarkan ilmu yang mana ilmu itu adalah sesuatu yang sangat
mulya dan menghidupkan atau melesatarikan agama Islam.[15]
D. ANALISIS
Pendidikan
Islam yang ditawarkan oleh K. H. Hasyim Asy`ari mempunyai aspek nilai yang
universal yang akan senantiasa benar dan relevan untuk dikaji, dikembangkan dan
diterapkan untuk masa lalu, masa kini dan masa yang akan dating yang termaktub
dalam kitab
yang berjudul Adab al-`Alim wa al-Muta`allim. Misalnya beliau menulis pesan-pesan yang dinukil dari ayat
al-Qur`an dan al-Sunnah. Firman Allah dalam Q.S. Al-Mujadalah ayat 11 adalah:
يرفع الله الذينأمنوا منكم
والذين اوتوا العلم درجات.....
Artinya: ”Maka
Allah akan mengangkat orang-orang beriman dari kamu dan orang-orang yang
mempunyai ilmu dengan beberapa derajat...[16].
اى يرفع العلماء منكم درجات
بما جمعوامن العلم والعمل.
Yaitu Allah akan
mengangkat derajat ulama dari kamu sekalian dengan beberapa derajat dari hasil
menguasai ilmu dan mengamalkannya."[17]
Etika pendidikan Islam yang ditawarkan oleh K.
H. Hasyim Asy`ari juga ada yang mempunyai aspek nilai yang bersifat spesifik
dan temporer yang hanya relevan untuk masa tertentu dan boleh jadi sekarang
sudah out of date untuk situasi yang relatif berbeda dengan masa lalu.
Sebagaimana K. H. Hasyim Asy’ari menuliskan:
ان يتصبّر على جفوة تصدر من
الشيخ او سوء خلقه....
Artinya: "Hendaknya
penuntut ilmu bersabar dengan sifat keras seorang guru atau bersabar dengan
sifat jeleknyaa…..."[18]
K. H. Hasyim
Asy`ari juga banyak memberikan pesan-pesan moral yang sangat filosofis dalam
etika pendidikan Islam sehingga membutuhkan penjelasan dan tafsiran yang lebih
rasional dan membumi.Bahkan banyak pesan-pesan beliau yang sangat singkat namun
berimplikasi sangat dalam dan luas. Misalnya beliau menukil pendapat Imam
Syafi`i :
ان لم
يكن الفقهاء العاملونبعلمهم اولياء الله فليس لله وليّ
Artinya: "Jika
para ulama yang beramal dengan ilmunya tidak bisa disebut sebagai wali Allah,
maka tidak akan ada lagi wali bagi Allah."[19]
K. H. Hasyim
Asy`ari juga menguraikan bahwa seorang pendidik tidak boleh membangga-banggakan
murid-murid karena berasal dari anak penguasa atau anak yang tinggi status
sosialnya.Apalagi bersikap opportunis untuk keperluan pendidikannya atau
bekerja untuk kepentingannya.Sikap dan tindakan demikian dianggap sebagai
kehinaan dan merendahkan derajat ilmu dan para pemiliknya.[20]
Pengembangan dalam arti di atas tentu tidak bisa disebut sebagai
tindakan yang beretika. Namun apabila hubungan antara pendidik dengan orangtua
atau pihak manapun dalam kepentingan memperkuat proses pendidikan maka hubungan
itu adalah bagian dari tugas-tugas kependidikan. Bahkan dewasa ini hubungan kemitraan
antara guru, orang tua dan masyarakat menjadi keniscayaan. Pendidikan Islam
justru harus mengintegrasikan potensi-potensi pendidikan formal, informal dan
non-formal, setidaknya dalam sistem kerja fungsional yang menunjang pencapaian
tujuan pendidikan. Paradigma ulama su` juga bukan berarti bahwa ulama lepas
sama seklai berhubunngan dengan pejabat atau orang kaya.
Pendidik hendaknya tidak boleh menampakkan penghargaan yang berbeda-beda
dalam kasih sayang (pilih kasih) terhadap murid-murid yang sama dalam umur,
keutamaan, kemampuan dan agama, tetapi jika benar ada keunggulan di antara
mereka dalam kesungguhan, kemampuan atau akhlak, maka guru boleh memberikan
penghargaan atau perhatian yang lebih. Dalam uraian ini, prinsip-prinsip
persamaan (musawah/equality) tetap diutamakan. Namun demikian,
berkenaan dengan nilai persamaan itu, tidak berarti meniadakan penghargaan bagi
yang berprestasi dan memberi hukuman kepada yang melanggar.
Pendidik
merupakan bapak rohani dan (spiritual father) bagi
peserta didik, yang memberikan santapan jiwa dengan ilmu, pembinaan akhlak
mulia, dan meluruskan perilakunya yang buruk. Oleh karena itu pendidik
mempunyai kedudukan tinggi dalam Islam.
Sebagaimana ang
hadis nabi yang diceritakan oleh ‘Amr Rasululloh SAW melewati majlis di dalam
masjidnya, lalu beliau bersabda: “keduanya (majlis) berada dalam kebaikan, dan
salah satu lainnya lebih utama, adapun (satu kelompok) mereka berdoa kepada
Alloh dan mengharapkan ridoNya, jika Ia kehendaki maka akan Ia kabulka, dan
jika Ia kehendaki maka akan Ia tahan (tidak dikabulkan). Adapun mereka (satu
kelompok lainnya) mereka memperdalam fiqih dan Ilmu (lain), lalu mereka
mengajarkan kepada mereka yang belum mengetahui, mereka inilah yang lebih
utama, dan aku diutus menjadi seorang pengajar”. Perawi berkata: kemudian
beliau duduk bersama mereka (yang sedang mengajar).[21]
Selanjutnya
dalam kitab Adab al-`Alim wa al-Muta`allim menyatakan: “sesungguhnya mengajarkan ilmu adalah
perkara yang paling penting menurut agama dan derajat orang mukmin yang paling
tinggi....”[22]
Dengan
demikian mengajar dan mendidik adalah profesi yang sangat mulia, karena secara
naluri orang yang berilmu itu dimuliakan dan dihormati oleh orang. Dan ilmu
pengetahuan itu sendiri adalah mulia, sehingga profesinya sebagai pengajar
adalah memberikan kemuliaan. Tugas pendidik yang utama adalah menyempurnakan,
membersihkan, menyucikan, serta membawakan hati manusia untuk mendekatkan diri
(taqarrub) kepada Allah SWT. Hal tersebut karena tujuan pendidikan Islam yang
utama adalah upaya untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Jika pendidik belum mampu
membiasakan diri dalam peribadatan pada peserta didiknya, maka ia mengalami
kegagalan dan tugasnya, sekalipun peserta didiknya memiliki prestasi akademis
yang luar biasa.Hal itu mengandung arti akan keterkaitan antara ilmu dan amal
shaleh.
Dalam
perkembangan berikutnya, paradigma pendidik tidak hanya bertugas sebagai
pengajar, yang mendoktrin peserta didiknya untuk menguasai seperangkat pengetahuan
dan skill tertentu. Pendidik hanya bertugas sebagai motivator dan fasilitator
dalam proses belajar mengajar. Keaktifan sangat tergantung pada peserta
didiknya sendiri, sekalipun keaktifan itu berakibat dari motivasi pemberian
fasilitas dari pendidiknya. Seorang pendidik dituntut mampu memainkan peranan
dan fungsinya dalam menjalankan tugas keguruannya, sehingga pendidik bisa
menempatkan kepentingan sebagai individu, anggota masyarakat, warga negara, dan
pendidik sendiri. Antara tugas keguruan dan tugas lainnya harus ditempatkan
menurut proporsinya.
Di dalam
tugas yang mulia itu seorang guru juga berhadapan dengan seperangkat komponen
yang terkait dan mempunyai hubungan yang sangat penting dalam mendidik, untuk
menuju pada satu titik optimal dari pengembangan segala potensi yang dimiliki
anak didik. Dalam rangka menciptakan kondisi profesional bagi para pendidik,
maka harus dilakukan beberapa hal yang berhubungan dengan keprofesionalannya. Dalam pemikirannya KH Hasyim Asy’ari tersebut
terealisasikan didalam pendidikan-pendidikan atau lembaga dibawah Naungan NU.
BAB III
KESIMPULAN
1. Nama lengkap K. H. Hasyim Asy’ari adalah Muhammad
Hasyim Asy’ari ibn ‘Abd Al-Wahid. Ia lahir di Gedang, sebuah desa di daerah
Jombang, Jawa Timur, pada hari selasa kliwon 24 Dzu Al-Qa’idah 1287 H, bertepatan dengan tanggal 14 Februari 1871. K.H. Hasyim Asy’ari sekitar pukul 03.45 WIB dini hari pada tanggal
26 Juli 1947, 7 Ramadhan 1366 H. beliau berpulang ke Rahmatullah.
2.
Pendidikan
Islam yang ditawarkan oleh K. H. Hasyim Asy`ari juga ada yang mempunyai aspek
nilai yang bersifat spesifik dan temporer yang hanya relevan untuk masa
tertentu. K. H. Hasyim Asy`ari juga banyak memberikan pesan-pesan moral yang
sangat filosofis dalam etika pendidikan Islam sehingga membutuhkan penjelasan
dan tafsiran yang lebih rasional dan membumi. Bahkan banyak pesan-pesan beliau
yang sangat singkat namun berimplikasi sangat dalam dan luas.
.Abu, H Bakar Atjeh, SejarahHidupK.H Wahid Hasyim dan Karang Tersinar,
Jakarta: Panitia Peringatan Buku K.H Wahid Hasyim, 1975.
Asy`ar, Hasyim, Adab al-`Alim wa al-Muta`allim, Maktabah al-Turats
al-Islami, Jombang, cetakan II, 1415 H.
, Penerjemah M. Tholuq Muqni, Menggapai Sukses dalam Belajar Mengaja,
Terjemah KItab Abdul 'Alim Wal Muta'llim, Multazam Press, Jombang 2011.
Burhanuddin, Tamyiz, Akhlak pesantren Pandangan K.H. Hasyim Asy`ari,
Yogyakarta: Ittaqa Press, Cetakan IV.
2001.
Depag RI, al-Qur`an
dan Terjemahnya, Semarang, Toha Putra, cetakan IV,1989.
Rifa’i,
Muhammad, K.
H. HasyimAsy’ariBiografiSingkat, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2009
, K.
H. Hasyim Asy’ari, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media Group, cetakan
III, 2010.
Suryani, Hadis Tarbawi Analisis Paedagogis Hadis-hadis Nabi,
Yogyakarta: Teras, 2012.
Suwendi, Konsep Pendidikan KH. Hasyim Asy’ari, Jakarta: LekDis, 2005
[1]Tamyiz Burhanuddin, Akhlak
pesantren Pandangan K.H. Hasyim Asy`ari, (Yogyakarta: Ittaqa Press, 2001), hal. 68
[4]Muhammad Rifa’i, K. H. Hasyim Asy’ari Biografi Singkat, (Jogjakarta: Ar-Ruzz
Media, 2009), hal. 3
[5]H.Abu Bakar Atjeh, SejarahHidupK.H Wahid Hasyim
dan Karang Tersinar, (Jakarta: Panitia Peringatan Buku K.H Wahid Hasyim,
1975), hal. 35
[7]Suwendi, Konsep Pendidikan KH. Hasyim Asy’ari,
(Jakarta: LekDis, 2005), hal. 47
[10]Hasyim Asy'ari, Penerjemah M. Tholuq Muqni,
Menggapai Sukses dalam Belajar Mengaja, Terjemah KItab Abdul 'Alim Wal
Muta'llim, (Multazam Press, Jombang 2011), hal. 59
[17]Hasyim Asy`ari, Adab
al-`Alim wa al-Muta`allim, (Maktabah al-Turats al-Islami, Jombang, 1415 H),
hal.12
[21]Suryani, Hadis Tarbawi Analisis Paedagogis
Hadis-hadis Nabi, (Yogyakarta: Teras, 2012) , hal. 46-47
Tidak ada komentar:
Posting Komentar